Bahaya Laten Memelihara Prasangka

Dalam bahasa Inggris, prasangka dimaknai sebagai prejudice. Istilah ini populer dalam dunia psikologi, menggambarkan perasaan yang dimiliki oleh seseorang terhadap orang lain yang tidak berdasarkan fakta utuh.

Setiap orang memiliki perspektif dalam dirinya, yang dibentuk oleh banyak faktor: pengetahuan, pengalaman, nilai sosial, afiliasi politik, gender, kelas sosial, usia, agama, ras, bahasa, pekerjaan, dan berbagai karakter personal lainnya. Hal ini berpengaruh terhadap cara ia menilai orang lain, positif atau negatif.

Seseorang yang pernah alami pengalaman buruk dalam kehidupan asmara, akan cenderung menilai lawan jenis dengan penuh kecurigaan. Ketika ada hal kecil saja yang mendukung prasangka buruk terhadap lawan jenisnya, ia mempertahankan prasangka itu sebagai kebenaran. Hal baik yang besar akan tertutupi oleh fakta kecil.

Harper Lee, dalam To kill a mockingbird, mengatakan:

People generally see what they look for, and hear what they listen for.

Disinilah persoalan hubungan sosial bermula. Ketika memiliki prasangka buruk terhadap orang lain, maka seseorang tanpa sadar membentuk penjara bagi dirinya. Ia akan selalu mencari sisi buruk orang lain. Karena hal buruk yang dia cari, maka hal buruklah yang akan selalu ia temukan.

Ada kisah tentang dialog Buya Hamka dengan seseorang yang mengatakan bahwa “di Mekkah saja ada pelacur”. Hamka menjawab, ia baru saja dari Los Angeles dan New York, dan ia tidak menemukan satupun pelacur di Amerika.

Orang itu mengatakan, tidak mungkin. “Amerika adalah sarangnya pelacuran”.

Buya Hamka menjawab: “setiap orang akan selalu menemukan apa yang ia cari. Jika yang kamu cari adalah hal buruk, maka kemanapun kamu pergi akan kamu temukan hal buruk. Sebaliknya, jika yang kamu cari adalah hal baik, maka kamu akan menemukan kebaikan dimanapun”.

Menjauhi Prasangka

Seseorang yang memiliki prasangka dalam dirinya akan memiliki beban berlipat ganda. Ia akan sulit menemukan kebaikan orang, dan akan memendam ketakutan menerima hal baru.

Di sisi lain, seseorang lain yang diberi stigma buruk berdasarkan prasangka buruk, akan terus menjadi sosok buruk dalam imajinasi. Alangkah repotnya menjadi orang yang selalu dituduh buruk dan salah, meski hanya oleh satu dua orang saja. Bagi pribadi yang peduli, tuduhan buruk dari orang lain bukan soal jumlah, namun soal nilai.

Bagaimana menghindari prasangka dalam diri kita?

Ada banyak teori psikologi yang menelaah hal ini. Namun, saya pribadi menilai langkah awal yang paling penting adalah membangun komunikasi dengan pikiran jernih. Belajarlah untuk selalu mencari hal baik dari sisi orang lain, seperti pesan Buya Hamka.

Tentu saja, itu bukan langkah mudah. Tapi langkah itu selalu mungkin. Tinggal kita mau atau tidak mau saja.(*)