Tong Susu dan Kim Teng di Pekanbaru

Tiba sekitar pukul 18.30 WIB di Pekanbaru yang diguyur hujan. Perjalanan sekitar enam jam (termasuk lay over sekitar dua jam) cukup menguras energi.

Setelah pertemuan pendahuluan usai, saya menyalakan radar tempat minum kopi. Di google map, terdapat beberapa tempat yang tidak jauh. Tapi, seperti biasa, sumber informasi terbaik selalu saja dari warga lokal.

Beberapa nama tempat yang disarankan cukup menarik. Saya memutuskan untuk mencoba Tong Susu, karena lokasi yang dekat dan nama yang unik. Pada malam yang mulai larut seperti ini, sebaiknya memang tidak mencari tempat yang jauh.

Juga ada informasi tentang Kim Teng, kedai kopi legendaris di kota ini. Namun, lagi-lagi, karena alasan waktu yang telah cukup larut, maka tempat ini tidak bisa menjadi pilihan. Kata warga, Kim Teng punya beberapa cabang. Ada yang tutup jam 12 siang, ada juga yang jam 10 malam.

Tong Susu

Sesuai namanya, kedai ini menyajikan susu sebagai sajian utama. Tapi ini bukan sembarang susu, melainkan susu sapi murni. Lokasinya tidak jauh dari Hotel Pangeran tempat saya menginap, hanya sekitar 3 menit jalan kaki.

Saya tiba sekitar pukul 22.30. Kedai tidak terlalu ramai, mungkin karena ini adalah hari kerja. Atau mungkin juga karena memang sudah larut. Kata pramusaji, kedai ini tutup jam 24.00, last order jam 23.30.

Cukup jarang mencoba kopi dengan campuran susu sapi murni. Di banyak warkop, kopi umumnya dicampur dengan sweetener yang entah kenapa disebut susu. Tapi disini, kopi dicampur dengan susu murni yang tentu saja sehat.

Konon, Tong Susu telah ada sejak tahun 2011. Ketika itu, kedai ini terletak di Jalan Nanas, satu-satunya tempat minum susu sapi murni. Menurut kasir, kedai di jalan Sudirman ini baru berdiri dua tahun, pindahan dari Jalan Nanas.

Nampaknya, bangunan kedai yang ini memiliki histori tersendiri. Terdapat tulisan yang menjelaskannya. Terlihat di atas bangunan untuk non smoking area, tulisan “berdiri sejak tahun 60-an, tempat ini diberi nama GUDANG ASAP”.

Harga minuman cukup murah. Segelas kopi susu Rp. 14.000,-. Tapi rasanya otentik. Mungkin karena dominasi susu yang hendak ditonjolkan, jenis kopi yang digunakan tidak terkenali. Aromanya hilang, berganti aroma susu sapi murni.
.
Kopi yang sebenar-benarnya susu.

Kim Teng

Esok harinya, 24 April, usai workshop sehari penuh yang melelahkan, saya memutuskan akan berkunjung ke Kedai Kim Teng. Sudah banyak orang menceritakan tempat ini. Saya googling, nama ini rupanya memang populer.

Kopi Kim Teng adalah rekomendasi warga lokal ketika kita bertanya kedai kopi di Pekanbaru.

Kedai ini awalnya di tepi Sungai Siak, sudah ada sejak tahun 1950-an. Sekarang, Kopi Kim Teng telah memiliki gerai di beberapa mall di Pekanbaru. Kedai yang aslinya terdapat di daerah Senapelan, namun beroperasi jam 06.00 hingga 12.00 siang hari saja.

Menunya yang utama adalah kopi susu dan roti bakar srikaya. Juga ada telur setengah matang. Menu yang sama persis dengan Kopi Phoenam, juga legendaris di Makassar.

Menurut cerita supir taksi online yang membawa saya, Kopi Kim Teng aslinya di Jalan Senapelan itu selalu ramai. “Ada puluhan mungkin sampai seratusan kursi disitu. Tapi kalau datang jam 9 atau jam 10 seringkali pengunjung harus antri,” kata pak supir.

Karena datang sore hari, kedai aslinya tutup. Sedikit berat hati, saya berkunjung ke kedai yang beroperasi di Senapelan Plaza, tidak jauh dari kedai yang asli.

Menurut pelayan disini, kopi yang disajikan adalah Arabika dari Kerinci. Namun, saya mendapatkan rasa asamnya telah tenggelam oleh campuran susu instan. Rasa kopinya jadi khas, tidak terlalu manis. Nampaknya, pembuat kopinya mengetahui campuran yang seimbang.

Rasa kopi yang khas membuat pikiran jadi ringan.(*)

“Makassar Kota Yang Aman, Ya…” Kata Orang Palembang

Saya berbicara dengan seorang Ibu di Palembang yang pernah ke Makassar beberapa waktu lalu.  Beliau adalah dekan salah satu fakultas di Universitas Sriwijaya.  Beliau menyatakan keheranan dengan berita media, khususnya TV nasional, tentang Makassar yang menyeramkan.

“Beberapa waktu lalu, saya berjalan di kawasan Jalan Somba Opu. Saya takjub dengan begitu banyaknya toko-toko yang menjual emas dan perhiasan di etalasi kaca, dan tokonya terbuka lebar,” kata ibu itu.

Menurutnya, di Palembang ini tidak ada lagi toko emas yang terbuka.  Pedagang emas selalu was-was dirampok, sebab itu sering terjadi. Mereka sangat hati-hati menaruh emas dan perhiasan di pajangan.  Tidak ada yang leluasa seperti di Jalan Somba Opu Makassar.

“Seingat saya, tidak pernah saya dengar ada toko emas di sekitar Somba Opu yang dijarah perampok,” kata saya. Mungkin pernah ada perampokan itu, tapi begitu jarangnya sampai-sampai tidak menjadi heboh dan membuat takut orang-orang berdagang emas dan perhiasan.

Saya menjelaskan kepada Ibu dekan itu, sebagian besar persepsi orang Indonesia tentang Makassar memang dibentuk oleh TV dan reproduksi kekerasan melalui media.  Apa yang menjadi berita hanyalah kekerasan, baik di kampus, di jalan-jalan, atau di gedung pengadilan. Sementara ada lebih banyak berita baik tentang Makassar tidak cukup direproduksi.

Walikota Makassar pernah bilang dalam suatu ceramahnya, untuk mengenal Makassar, datanglah ke Makassar. Hanya dengan cara itulah Anda akan mengenal Makassar yang sebenarnya, yaitu Makassar yang mulai macet, Makassar yang gagal meraih bahkan piagam Adipura, Makassar yang kalau musim hujan selalu ada genangan di mana-mana. Dengan kata lain, Makassar yang menuju kota dunia. (*)