Mengisi Bensin Siang Ini

Usai Rapat Koordinasi saya kembali ke kampus. Mohon maaf teman-teman Humas PTN se-Indonesia, kali ini saya harus gagal menjadi tuan rumah yang baik. Ada acara workshop pimpinan perguruan tinggi Indonesia dan Prancis di Unhas, dan kami sudah harus mempersiapkan banyak hal.

Indikator bensin motor saya sudah masuk zona merah. Artinya, saya harus mampir di SPBU dan mengisi. Beberapa SPBU kelihatan padat. Akhirnya, saya putuskan singgah di SPBU Jl. Abdullah Daeng Sirua.

Area pengisian premium dan pertalite untuk kendaraan roda dua tampak padat. Ketika ikut antri, saya berada di posisi keenam, sementara ada dua lajur. Itu berarti, saya diurutan ke-12. Di sebelah, saya lihat nosel untuk Pertamax Turbo tampak kosong. Tidak ingin membuang waktu, saya bergeser kesitu.

Meskipun lebih mahal (Rp. 11.500 per liter, berbanding Rp. 6.450 untuk premium), rasanya tidak sabar saya untuk antri di tengah panas terik jam 2 siang. Hujan belum lagi ada tanda-tanda akan turun, meskipun kini telah masuk bulan Oktober.

Saya menyiapkan uang Rp. 50.000,- dan meminta petugas mengisi penuh tangki motor matik saya. Ketika sedang mengisi, datang pengendara lain yang juga akan mengisi Pertamax Turbo. Sekilas saya lihat, ia seorang ibu muda. Gelagatnya, ia saling mengenal dengan petugas yang mengisi bensin motor saya.

“Weh, berapa mi anakmu?” tanya si petugas.

“Iye, ada mi gang, masih kecil…,” jawab wanita itu. Ia buru-buru melanjutkan, “Eh, tidak bawa uang ka ini, habis sekali mi bensinku. Rumahku di Rappocini. Bisa ki pegang dulu HP-ku, sebentar saya datang ambil. Pulang ka dulu ambil uang,” katanya.

Ia lalu menyerahkan HP-nya kepada petugas itu, smartphone entah merk apa.

Teman si petugas, seorang wanita, berkomentar agak keberatan. “Sering itu begitu Bu. Biasa orang titip KTP atau STNK, tapi tidak pernah mi datang ambil. Itu di kantor ada beberapa KTP sama STNK,” katanya.

“Deeeh, pasti ka datang. Kan HP ji saya titip. Jelas ada harganya. Apalagi itu HP yang saya pakai, satu-satunya,” kata si ibu muda dengan suara pelan.

Harga Pertamax Turbo hampir dua kali lipat bensin premium biasa. Saya menduga kuat, ibu ini tidak membeli bensin premium karena malu, antrian disana cukup panjang. Saya bisa membayangkan perasaannya jika harus menitip HP dihadapan banyak mata asing.

Ada berbaai alasan orang tidak membawa uang ketika keluar rumah. Bisa jadi ia memang lupa bawa dompet, bisa jadi ia kehabisan uang. Dan kemungkinan yang agak menyedihkan adalah ia keluar rumah dengan harapan akan memperoleh uang (karena bekerja atau karena ada yang menjanjikan), tetapi harapan itu tidak terpenuhi. Lalu ia terjebak pada situasi kehabisan bensin motor.

Saya mendengar percakapan mereka dengan hati sedih. Apalagi tadi ia mengatakan punya anak kecil.

Ketika tangki bensin motor saya penuh, angka harga di mesin menunjuk Rp. 33.000,-. Kepada petugas yang akan memberi kembalian, saya bilang “isikan mi sisanya untuk ibu dibelakang.”

Si ibu tampak berteriak, “tidak usah pak…! Tidak usah. Ada ji HP bisa saya titip.”

Saya menoleh dan senyum. Tapi ia pasti tidak melihat, sebab wajah saya tertutup masker. Kemudian saya berlalu. Sempat terdengar ia mengucapkan do’a-do’a baik untuk saya dan keluarga.

Bertahun-tahun lalu, saya pernah jalan kaki sejauh 7 kilometer dari kampus ke tempat kost, hanya karena tidak ada uang sebesar Rp. 500,- untuk sewa angkot. Sepanjang jalan, saya berdo’a menemukan uang tercecer, atau berharap ada kendaraan apa saja yang singgah dan memberi saya tumpangan.

Saya tahu rasanya tidak memiliki sepeserpun uang saat sangat membutuhkan.(*)

Memotret Makassar dan Senja dari Laut Losari

Setelah cukup lama saya tidak memotret serius, sore ini saya berada di Losari. Dalam dua tahun terakhir, kamera hanya digunakan untuk mengabadikan momen dokumentasi. Tentu tidak banyak tantangan, selain tuntutan mengambil momen pada waktu yang tepat, atau pada sudut pengambilan yang “tidak semua orang bisa menempatinya”.

Kamis, 3/10/2019, saya diajak oleh kolega di kampus untuk ikut field trip Phinisi. Ini bagian dari mata kuliah Kajian Kebijakan Maritim. Tujuannya sederhana saja, mengenalkan bagaimana suasana laut dari atas kapal Phinisi yang terkenal itu.

Meskipun Indonesia adalah negara maritim, namun tidak banyak lagi anak-anak muda yang pernah merasakan kehidupan laut. Dalam keseharian, kita memang tahu ada laut di sekitar kita. Namun, tidak banyak yang pernah naik kapal laut. Apalagi, kapal layar tradisional seperti Phinisi ini.

Tapi, sebaiknya saya tidak usah berlama-lama pada bagaimana proses kuliah di kapal Phinisi. Teman-teman di Tribun Timur telah menuliskannya cukup lengkap disini. Bahkan lengkap dengan videonya disini.

Perjalanan sore ini dirancang sangat singkat. Hanya sekitar dua jam. Paling tidak, anak-anak bisa merasakan “mabuk laut” (lol) bagi yang belum tahu rasanya. Semua peserta trip berkumpul di Anjungan Pantai Losari. Kapal mulai bergerak pada sekitar pukul 16.30, ketika matahari masih cukup tinggi.

Penampakan Kota Makassar pada waktu sore hari, ketika matahari menyorotinya dari “depan”.

Dari arah laut, Kota Makassar tampak indah. Meskipun setiap hari warganya begelut dengan berbagai persoalan kota, namun ketika beranjak dari daratan dan melihat kota dari laut, terasa ada yang berbeda. Kota ini sebenarnya indah.

Saya merasa kaku mengabadikan momen-momen ini. Juga ketika Phinisi yang kami tumpangi mulai memutari pulau-pulau spermonde, dan melewati beberapa kapal barang yang parkir. Hingga saatnya matahari terbenam, dan kami menyaksikannya dari tengah laut.

Saya selalu teringat kata seorang fotografer ketika saya ikut semacam workshop memotret bertahun-tahun silam. Sunset adalah obyek masterpiece. Ada begitu banyak, mungkin telah jutaan, orang yang memotret suasana matahari terbenam. Tantangan terbesar memotret obyek masterpiece adalah mencari momen atau sudut atau mungkin teknik yang belum pernah orang lain terapkan. Dan itu sangat sulit.

Maka, inilah beberapa gambar yang sempat saya hasilkan dari jalan-jalan sore di atas Phinisi, mengitari pelataran Kota Makassar.(*)

Obyek ini aslinya terbalik. Setelah dipotret, perlu di-flip horisontal.

Kapal-kapal barang yang bergerak menyisakan banyak polusi.

Salah satu Landmark Makassar warisan Gubernur Syahrul Yasin Limpo.

Black Coffee adalah Kopi Pahit #coffeestory

Pagi ini (Kamis, 1/8/2019) saya berada di Surabaya. Rencananya akan ke Ponorogo untuk mudif (menengok) anak yang sedang nyantri di Pondok Pesantren Gontor. Meskipun jasa angkutan travel Bandara Juanda menuju Ponorogo sudah dikontak sejak semalam, namun saya tetap harus menunggu. Travel ini mesti menunggu beberapa penumpang lain.

Di sela waktu menunggu (yang tidak jelas akan berapa lama), saya habiskan dengan nongkrong di kedai MJ, depan terminal kedatangan. Sebenarnya, saya sudah sarapan. Tapi sambil menunggu, bolehlah memesan kopi. Meskipun saya tidak berharap banyak kedai yang tidak secara khusus menyiapkan kopi.

Ada hal menarik di daftar menu kedai MJ ini. Pada bagian minuman tertulis dua pilihan kopi: Kopi Pahit (Black Coffee) dan Kopi Manis (Sweet Black Coffee).

Ini pertama kali saya menemukan kedai kopi dengan menu bertuliskan Kopi Pahit. Biasanya, pilihan menu itu hanya kopi saja, berarti sudah pasti pahit. Jika ingin manis, tinggal ditambah gula bukan?

Saya coba bertanya kepada pramusaji yang tampak ramah: “kenapa ada pilihan kopi pahit dan kopi manis?”. Saya berpikir, bisa saja disajikan saja kopi tanpa gula. Jika konsumennya ingin yang manis tinggal di tambah gula. Apalagi, harga kopi manis dan kopi pahit di menu itu sama saja.

Si pramusaji tampak berpikir sejenak. Tetapi ia tidak dapat memberikan jawaban. “Entahlah, pak… Saya juga tidak paham,” katanya sambil senyum.

Tentu saja, saya tidak perlu berpikir lama-lama tentang pilihan kopi pahit dan kopi manis di menu ini. Tapi, rasanya unik saja, karena (sekali lagi) inilah pertama kali ada kedai dengan pilihan spesifik di menu seperti ini.

Di banyak tempat di Indonesia, kopi umumnya disajikan pahit. Ada yang memberi tambahan gula dalam bentuk sachet, dan ada juga yang telah menyiapkan gula dalam toples di meja pelanggan.(*)

Mengapa Sulit Sekali Melaksanakan Apa Yang Direncanakan?

Masa-masa menyusun rencana adalah masa paling exciting. Banyak mempunyai angan–angan tentang apa yang akan dia lakukan untuk mencapai tujuan, cita-cita, atau harapannya.

Misalnya, seseorang yang sedang menyusun skripsi, atau tesis, atau disertasi. Dia akan membayangkan setiap hari akan ada minimal 5 lembar skripsi dia hasilkan. Jika rencana itu terwujud, maka skripsi setebal 100 halaman akan selesai dalam waktu paling lama 20 hari saja.

Waktu bergerak. Alih-alih 5 halaman sehari, yang terjadi adalah 1 halaman setiap 5 hari… LOL.

Mengapa sulit sekali melaksanakan apa yang menjadi rencana?

Jawaban pertanyaan seperti ini ibarat memecahkan rahasia terbesar alam semesta…(*)

Bahaya Laten Memelihara Prasangka

Dalam bahasa Inggris, prasangka dimaknai sebagai prejudice. Istilah ini populer dalam dunia psikologi, menggambarkan perasaan yang dimiliki oleh seseorang terhadap orang lain yang tidak berdasarkan fakta utuh.

Setiap orang memiliki perspektif dalam dirinya, yang dibentuk oleh banyak faktor: pengetahuan, pengalaman, nilai sosial, afiliasi politik, gender, kelas sosial, usia, agama, ras, bahasa, pekerjaan, dan berbagai karakter personal lainnya. Hal ini berpengaruh terhadap cara ia menilai orang lain, positif atau negatif.

Seseorang yang pernah alami pengalaman buruk dalam kehidupan asmara, akan cenderung menilai lawan jenis dengan penuh kecurigaan. Ketika ada hal kecil saja yang mendukung prasangka buruk terhadap lawan jenisnya, ia mempertahankan prasangka itu sebagai kebenaran. Hal baik yang besar akan tertutupi oleh fakta kecil.

Harper Lee, dalam To kill a mockingbird, mengatakan:

People generally see what they look for, and hear what they listen for.

Disinilah persoalan hubungan sosial bermula. Ketika memiliki prasangka buruk terhadap orang lain, maka seseorang tanpa sadar membentuk penjara bagi dirinya. Ia akan selalu mencari sisi buruk orang lain. Karena hal buruk yang dia cari, maka hal buruklah yang akan selalu ia temukan.

Ada kisah tentang dialog Buya Hamka dengan seseorang yang mengatakan bahwa “di Mekkah saja ada pelacur”. Hamka menjawab, ia baru saja dari Los Angeles dan New York, dan ia tidak menemukan satupun pelacur di Amerika.

Orang itu mengatakan, tidak mungkin. “Amerika adalah sarangnya pelacuran”.

Buya Hamka menjawab: “setiap orang akan selalu menemukan apa yang ia cari. Jika yang kamu cari adalah hal buruk, maka kemanapun kamu pergi akan kamu temukan hal buruk. Sebaliknya, jika yang kamu cari adalah hal baik, maka kamu akan menemukan kebaikan dimanapun”.

Menjauhi Prasangka

Seseorang yang memiliki prasangka dalam dirinya akan memiliki beban berlipat ganda. Ia akan sulit menemukan kebaikan orang, dan akan memendam ketakutan menerima hal baru.

Di sisi lain, seseorang lain yang diberi stigma buruk berdasarkan prasangka buruk, akan terus menjadi sosok buruk dalam imajinasi. Alangkah repotnya menjadi orang yang selalu dituduh buruk dan salah, meski hanya oleh satu dua orang saja. Bagi pribadi yang peduli, tuduhan buruk dari orang lain bukan soal jumlah, namun soal nilai.

Bagaimana menghindari prasangka dalam diri kita?

Ada banyak teori psikologi yang menelaah hal ini. Namun, saya pribadi menilai langkah awal yang paling penting adalah membangun komunikasi dengan pikiran jernih. Belajarlah untuk selalu mencari hal baik dari sisi orang lain, seperti pesan Buya Hamka.

Tentu saja, itu bukan langkah mudah. Tapi langkah itu selalu mungkin. Tinggal kita mau atau tidak mau saja.(*)

Tong Susu dan Kim Teng di Pekanbaru

Tiba sekitar pukul 18.30 WIB di Pekanbaru yang diguyur hujan. Perjalanan sekitar enam jam (termasuk lay over sekitar dua jam) cukup menguras energi.

Setelah pertemuan pendahuluan usai, saya menyalakan radar tempat minum kopi. Di google map, terdapat beberapa tempat yang tidak jauh. Tapi, seperti biasa, sumber informasi terbaik selalu saja dari warga lokal.

Beberapa nama tempat yang disarankan cukup menarik. Saya memutuskan untuk mencoba Tong Susu, karena lokasi yang dekat dan nama yang unik. Pada malam yang mulai larut seperti ini, sebaiknya memang tidak mencari tempat yang jauh.

Juga ada informasi tentang Kim Teng, kedai kopi legendaris di kota ini. Namun, lagi-lagi, karena alasan waktu yang telah cukup larut, maka tempat ini tidak bisa menjadi pilihan. Kata warga, Kim Teng punya beberapa cabang. Ada yang tutup jam 12 siang, ada juga yang jam 10 malam.

Tong Susu

Sesuai namanya, kedai ini menyajikan susu sebagai sajian utama. Tapi ini bukan sembarang susu, melainkan susu sapi murni. Lokasinya tidak jauh dari Hotel Pangeran tempat saya menginap, hanya sekitar 3 menit jalan kaki.

Saya tiba sekitar pukul 22.30. Kedai tidak terlalu ramai, mungkin karena ini adalah hari kerja. Atau mungkin juga karena memang sudah larut. Kata pramusaji, kedai ini tutup jam 24.00, last order jam 23.30.

Cukup jarang mencoba kopi dengan campuran susu sapi murni. Di banyak warkop, kopi umumnya dicampur dengan sweetener yang entah kenapa disebut susu. Tapi disini, kopi dicampur dengan susu murni yang tentu saja sehat.

Konon, Tong Susu telah ada sejak tahun 2011. Ketika itu, kedai ini terletak di Jalan Nanas, satu-satunya tempat minum susu sapi murni. Menurut kasir, kedai di jalan Sudirman ini baru berdiri dua tahun, pindahan dari Jalan Nanas.

Nampaknya, bangunan kedai yang ini memiliki histori tersendiri. Terdapat tulisan yang menjelaskannya. Terlihat di atas bangunan untuk non smoking area, tulisan “berdiri sejak tahun 60-an, tempat ini diberi nama GUDANG ASAP”.

Harga minuman cukup murah. Segelas kopi susu Rp. 14.000,-. Tapi rasanya otentik. Mungkin karena dominasi susu yang hendak ditonjolkan, jenis kopi yang digunakan tidak terkenali. Aromanya hilang, berganti aroma susu sapi murni.
.
Kopi yang sebenar-benarnya susu.

Kim Teng

Esok harinya, 24 April, usai workshop sehari penuh yang melelahkan, saya memutuskan akan berkunjung ke Kedai Kim Teng. Sudah banyak orang menceritakan tempat ini. Saya googling, nama ini rupanya memang populer.

Kopi Kim Teng adalah rekomendasi warga lokal ketika kita bertanya kedai kopi di Pekanbaru.

Kedai ini awalnya di tepi Sungai Siak, sudah ada sejak tahun 1950-an. Sekarang, Kopi Kim Teng telah memiliki gerai di beberapa mall di Pekanbaru. Kedai yang aslinya terdapat di daerah Senapelan, namun beroperasi jam 06.00 hingga 12.00 siang hari saja.

Menunya yang utama adalah kopi susu dan roti bakar srikaya. Juga ada telur setengah matang. Menu yang sama persis dengan Kopi Phoenam, juga legendaris di Makassar.

Menurut cerita supir taksi online yang membawa saya, Kopi Kim Teng aslinya di Jalan Senapelan itu selalu ramai. “Ada puluhan mungkin sampai seratusan kursi disitu. Tapi kalau datang jam 9 atau jam 10 seringkali pengunjung harus antri,” kata pak supir.

Karena datang sore hari, kedai aslinya tutup. Sedikit berat hati, saya berkunjung ke kedai yang beroperasi di Senapelan Plaza, tidak jauh dari kedai yang asli.

Menurut pelayan disini, kopi yang disajikan adalah Arabika dari Kerinci. Namun, saya mendapatkan rasa asamnya telah tenggelam oleh campuran susu instan. Rasa kopinya jadi khas, tidak terlalu manis. Nampaknya, pembuat kopinya mengetahui campuran yang seimbang.

Rasa kopi yang khas membuat pikiran jadi ringan.(*)

Bawa Sepeda di @IndonesiaGaruda dari Jepang

Kali ini saya bermaksud membawa sepeda ke Indonesia. Selama di Kyoto dalam tiga bulan terakhir saya memakai sepeda yang bisa dilipat, yang menurut saya lumayan bagus. Rasanya sayang kalau  harus ditinggalkan.

Saya pernah mendengar bahwa dalam penerbangan, baik domestik maupun internasional, sepeda masuk kategori sport equipment. Perlakuannya sama seperti papan seluncur. Di Garuda Indonesia, membawanya di pesawat tidak dikenakan biaya bagasi, sama seperti alat musik. Informasi resmi tentang ketentuan bagasi dapat dilihat disini. Lihat di bagian Peralatan Olahraga.

Pertanyaannya, bagaimana seharusnya sepeda itu diperlakukan sehingga memenuhi ketentuan bagasi gratis?

Di website tercantum ukuran kotak yang diperbolehkan. Dengan demikian, saya awalnya berasumsi bahwa ia harus dimasukkan ke dalam kotak karton. Tapi, kenapa papan seluncur (surfing) sering kita lihat dibawa tanpa dimasukkan ke dalam box ya?

Jika harus dimasukkan box juga repot. Mencari box yang sesuai ukuran seperti tercantum pada website Garuda tentu tidak mudah.

Maka, untuk memastikan bisa dibawa tanpa masalah berarti, saya mulai mencari informasi.

Komunikasi dengan sosial media Garuda menyebutkan bahwa harus dimasukkan dalam kotak karton. Saya bertanya ke teman di Garuda juga informasinya sama, bahkan dia bilang sebaiknya diwrapping. Saya berpikir, yang diwrapping “sepedanya” atau “box-nya” ya?

Tas Sepeda

Di Jepang, pengguna sepeda lipat akrab dengan tas (namanya Rinko Bukuro). Tas ini adalah perlengkapan wajib jika ingin membawa sepeda di kereta: dilipat, lalu dimasukkan ke Rinko Bukuru, tidak boleh dalam keadaan polos.

Saya lalu bertanya ke kantor Garuda Jepang. Apakah bisa jika sepeda itu saya masukkan ke rinko bukuro dan bukan dalam kotak karton. Jawabnya, bisa. Meskipun demikian, karena sumber informasi yang bervariasi, saya berniat untuk menggunakan tas dan juga me-wrapping di Bandara nanti.

Jadi saya mencari rinko bukuro yang sesuai. Di Kyoto, toko-toko sepeda besar umumnya menjual berbagai macam varian rinko. Saya mendatangi toko Asahi Base Bycicle di daerah Takano. Ini tidak jauh dari apato saya dulu. Untuk memastikan bisa masuk ke dalam rinko bukuro, saya membawa serta sepeda ke toko itu.

Pelayan di toko sangat ramah. Ia mengajak saya ke lantai 2 dan menunjukkan berbagai macam rinko, dengan harga bervariasi. Yang paling murah 2.900 Yen. Ada yang harganya sampai 10.000 Yen. Saya memilih yang paling murah dan meminta untuk dicoba dulu. Maka sepeda saya dilipat dan coba di masukkan ke Rinko itu. Cocok. Jadi saya mengambilnya.

Dari Kyoto ke Bandara Kansai di Osaka lumayan jauh, tetapi ada bermacam pilihan transportasi: kalau kita membawa banyak barang atau bagasi berat, yang paling efisien adalah menggunakan Shuttle service. Kita order tiga hari sebelumnya, dan akan dijemput di tempat tinggal. Pilihan lain adalah kereta cepat dari Stasiun Kyoto, atau menggunakan bus dari dekat Stasiun Kyoto.

Saya mencoba Shutle service. Pada saat reservasi, saya sampaikan bahwa saya akan membawa sepeda. Ternyata, kedua perusahaan layanan shutle service yang ada di Kyoto (MK Taxi dan Yasaka Shutle) tidak diperkenankan membawa sepeda, meskipun dilipat dimasukan tas.

Di website JR West (perusahaan kereta api), disebutkan bahwa boleh membawa sepeda di kereta, namun harus masuk rinko. Untuk memastikan, saya bertanya langsung ke counter information di Kyoto Station dan menanyakan hal ini. Benar. Katanya boleh. Nanti sepeda itu bisa diletakkan di tempat bagasi di kereta.

Maka, pada hari “H”, sepeda saya masukan rinko. Bisa ditenteng dan ditaruh di punggung sebagaimana halnya tas selempang ukuran jumbo. Tentu saja lumayan berat, sekitar 15 kg.

Saya menuju Stasiun Kyoto menggunakan taksi (lumayan mahal dibanding menggunakan Subway). Sebenarnya, jika hanya sepeda yang dibawa, atau ada teman perjalanan yang bisa bantu bawakan barang lain, menggunakan Subway jauh lebih efisien. Sebagai perbandingan, tarif Subway dari tempat saya ke Stasiun Kyoto hanya 260 Yen. Sedangkan dengan taksi, tarifnya sampai 2.100 Yen. Keuntungannya, taksi mengambil saya di depan apato, jadi tidak perlu berjalan ke stasiun Subway yang cukup jauh.

Tiba di stasiun, saya naik kereta tanpa kesulitan. Hanya berjalan menuju peron saja yang harus terseok-seok: membawa tas ransel, 1 bagasi pakaian berukuran besar (kopornya beroda), membawa 1 box sedang berisi buku-buku (saya taruh di atas kopor), dan sepeda dalam tas yang diselempangkan di punggung.

Begitu kereta jalan, rasanya lega. Tahap pertama membawa kereta teratasi.

Tiba di bandara, kembali saya harus terseok-seok, tampak sangat rempong dengan barang sebegitu banyak. Tetapi begitu ketemu trolley, masalah selesai. Semua barang itu muat 1 trolley dan saya bisa ke lantai-lantai atas (tempat check-in internasional di Bandara Kansai) tanpa kesulitan. Lift memang didesain untuk penggunan berbarang banyak.

Sebelum ke tempat wrapping, saya langsung ke counter check-in dulu. Saya pikir, nantilah jika petugas check-in meminta di-wrapping baru saya lakukan.

Di counter check-in Garuda, petugas nampaknya familiar dengan barang bawaan saya. Si mbak Jepang yang cantik hanya memastikan: “is this bicycle, Sir?”. Setelah itu, ia memproses bagasi tanpa masalah.

Begitu semua barang masuk bagasi, lega rasanya.

Sore harinya, setelah tujuh jam penerbangan non stop ke Denpasar, sepeda itu telah ada di Denpasar. Beberapa saat lalu, sepeda itu juga baru saja masuk ke bagasi untuk ke Makassar.

Dan semuanya gratis!

Rekomendasi untuk Garuda

Jika boleh tambah saran, Garuda Indonesia sebaiknya menambahkan informasi di website-nya tentang ketentuan bagasi. Untuk sepeda, bisa dimasukkan ke dalam tas sepeda (Rinko Bukuru kalau di Jepang). Ini akan sangat membantu persiapan penumpang yang hendak bawa sepeda, terutama mengurangi kebingungan sebelum keberangkatan.(*)

Faktor Ngabalin Terhadap Elektabilitas Jokowi – Ma’ruf Amin

Sejak 1 Mei 2018, Ali Mochtar Ngabalin diangkat sebagai Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Deputi IV KSP adalah Eko Sulistyo, yang membidangi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi.

Tugas Ngabalin adalah membantu fungsi komunikasi politik pemerintahan di bawah Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko.

(Tugas Ali Mochtar Ngabalin, Moeldoko: Bukan Juru Bicara Presiden – nasional Tempo.co https://nasional.tempo.co/read/1091853/tugas-ali-mochtar-ngabalin-moeldoko-bukan-juru-bicara-presiden)

Ngabalin seringkali menjadi nara sumber mewakili pemerintah. Mungkin karena dia masuk ke gerbong Pemerintahan Jokowi pada masa-masa menjelang Pilpres, maka aroma politik lebih kental.

Mau tidak mau, ketika tim kampanye Prabowo menyerang “hasil kerja pemerintahan Jokowi”, Ngabalin harus tampil menjadi “pembela”. Ia sebenarnya membela pemerintah, sesuai tugasnya. Namun sering terjebak menjadi pembela Jokowi yang juga sedang menjadi calon presiden.

Di sosial media, posisi Ngabalin tersebut dilihat dalam dua sisi.

Ada yang melihatnya positif, memberi dampak bagus bagi elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin. Dia memiliki kemampuan berbicara yang menarik seperti penjual obat. Juga ia piawai dalam hal ngotot.

Di tambah lagi, dia memiliki basis politik (partai Golkar) dan basis sosial sebagai Ketua Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia, meskipun ada yang anggap hal itu bohong (Klaim Jabat Ketum Bakomubin, Ali Ngabalin Dipolisikan http://cnn.id/351126).

Di sisi lain, sebagian publik menilai kehadiran Ngabalin memberi dampak negatif bagi elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin. Dari aspek tugas pokok, Ngabalin sering dianggap melampaui kewenangan. Alih-alih mendatangkan simpati, justru hal ini menimbulkan antipati publik.

Misalnya, ketika Ngabalin dengan lantang berbicara diberbagai kesempatan bahwa “tagar #2019gantipresiden adalah gerakan makar”. Atau saat Ngabalin berbicara dengan pilihan bahasa kurang etis kepada wakil ketua DPR, menggunakan sapaan “kau”. Nampaknya, Ngabalin sering lupa kalau dirinya adalah wakil pemerintah.

Dalam masa-masa kritis menjelang 17 April yang tinggal beberapa hari, seharusnya faktor Ngabalin menjadi perhatian Jokowi. Apakah kehadirannya membantu menaikkan atau justru menurunkan elektabilitas?

Sayangnya belum ada survei khusus tentang hal ini.

Namun demikian, dari jajak pendapat singkat melalui akun media sosial saya, kelihatannya publik menganggap faktor Ngabalin justru memberi sentimen negatif terhadap dampak elektoral Jokowi.

Apalagi, pada Pemilu 2014 lalu Ngabalin adalah pendukung Prabowo. Jejak digital pernyataan-pernyataan Ngabalin pada masa itu kini dimunculkan kembali. Bagi masyarakat awam (yang kurang paham politik) sikap seperti Ngabalin dianggap buruk, tidak punya konsistensi, bahkan bisa dianggap munafik.

Mumpung hasil survei Jokowi masih cukup tinggi (meskipun terus tergerus), maka sebaiknya sisa waktu menjelang pencoblosan dioptimalkan. Termasuk pula dengan opsi mengganti Ngabalin, atau menyuruhnya untuk hilang sebentar dari sorotan kamera dan wartawan.(*)

Cara Pikir Era Westphalia

Dulu, terutama pada tahun 1648 ketika perjanjian Westphalia mula-mula disepakati, negara-negara di dunia euforia dengan kedaulatan nasional. Sehingga, kalimat-kalimat seperti: “ini urusan domestik, Anda jangan ikut campur”, atau “ini masalah dalam negeri, kami tidak peduli komentar asing” adalah ungkapan yang lazim diucapkan diplomat dan kepala negara.

Tetapi itu dulu, masa ketika jarak dari Tokyo ke Paris masih butuh waktu tempuh 2 sampai 3 bulan.

Seiring waktu, kemajuan peradaban, perubahan isu bersama manusia juga terjadi. Tokyo ke Paris kini hanya butuh 11 jam penerbangan langsung. Dengan interaksi virtual, bahkan tidak lagi butuh waktu.

Banyak persoalan yang tidak bisa lagi dengan sombong dianggap sebagai “urusan domestik”. Isu lingkungan hidup misalnya. Kebakaran hutan di Sumatera itu asapnya bisa kemana-mana hingga Thailand.

Begitu juga isu kemanusiaan. Ketika bencana alam melanda Lombok dan Palu beberapa waktu lalu, bantuan internasional cepat sekali mengalir.

Semakin banyak isu yang dulu pada tahun 1600-an dianggap isu domestik, sekarang telah menjadi isu bersama umat manusia. Tidak ada lagi batas negara yang rigid, manusia dibelahan bumi mana saja peduli dengan isu ini: kejahatan terorganisir, terorisme, kelaparan dan kemiskinan, dan lain-lain.

Dalam beberapa hari ini, sering terdengar kalimat-kalimat: “kita tidak peduli dengan kata asing, ini urusan domestik”. Diucapkan oleh banyak pihak. Ada pejabat, ada pengamat, dan ada penggembira.

Begitulah. Kalender Gregorian sudah 2019. Tapi cari berpikir kita masih 1600-an. Kita alami krisis berpikir, sebab akal sehat kita ketinggalan di abad ke-17.

@pandi_ID yang kekurangan empati sosial

Rasanya tidak perlu lagi diinisialkan. Toh publik sudah sama ketahui, bahwa Vanessa Angel terciduk di Surabaya, sedang terlibat prostitusi online. Bayaran Rp. 80 juta inilah yang membuat prihatin.

Tidak sampai seminggu, Pengelola Nama Domain Indonesia (PANDI) membuat iklan di akun instagram-nya: “80 Juta dapat apa?”

Tentu saja, iklan dengan konten isu publik yang sedang trending bisa menjadi eye-catching. Masyarakat membacanya dengan rasa ketertarikan yang meningkat. Kasus prostitusi online yang melibatkan Vanessa Angel menyebabkan frasa “80 juta” menjadi kata kunci.

Menurut saya, pemilihan narasi dengan konotasi negatif adalah hal yang kurang bijak, kalau tidak mau kita sebut sebagai kehilangan empati. Kita seharusnya paham bahwa konteks kasus yang melibatkan Vanessa Angel bukanlah hal yang layak untuk dipelihara dalam memori publik. Sebab, itu bisa menyebabkan publik menerima realitas prostitusi online sebagai realitas yang biasa saja.

Sepengetahuan saya, PANDI memiliki elemen publik dalam dirinya. Sebagai badan yang memiliki kewenangan berdasarkan mandat pemerintah (melalui Keputusan Menkominfo), badan seharusnya tidak ikut-ikutan terjerembab dalam wilayah yang nir empati.(*)