Jepang dan Strategi Keamanan Internasional Baru

Jepang dan Amerika Serikat menandatangani Perjanjian Keamanan pada 8 September 1951. Traktat yang secara formal bernama The Security Treaty Between Japan and United States (Nipponkoku to Amerikagasshūkoku to no aida no anzen hoshōjōyaku) itu berisi lima pasal, intinya adalah Jepang menempatkan Amerika Serikat sebagai payung keamanan.

Sebagai negara yang kalah perang, Jepang sebelumnya harus bersedia dilucuti secara menyeluruh. Negara ini tidak lagi diperkenankan memiliki angkatan bersenjata yang memiliki kemampuan menyerang, kecuali sedikit kekuatan untuk membela diri. Komitmen perlucutan yang tertuang pada pasal 9 konstitusi tahun 1947 itu berdampak pada “lemah”-nya posisi keamanan Jepang secara relatif dalam berinteraksi dengan kekuatan eksternal.

Pada 2014, Shinzo Abe menginisiasi suatu langkah untuk menginterpretasi ulang pasal tersebut. Setelah melalui serangkaian debat politik, dan dibayang-bayangi oleh kekhawatiran kembalinya negara agresif sebagaimana tahun 1940-an, parlemen akhirnya menyetujui interpretasi tersebut.

Hasilnya, angkatan bersenjata yang sebelumnya hanya boleh memiliki kekuatan membela diri (Self Defence Force) kini diperkenankan untuk meningkatkan kapasitas. Jepang sekarang boleh “terlibat membantu sekutunya yang diserang oleh negara lain”. Amerika Serikat memberi persetujuan, meskipun China memprotes keras atas alasan historis.

Arsitektur Regional Yang Tidak Pasti

Perdana Menteri Abe memilih cara “mengubah konstitusi” yang tidak lazim. Sesuai ketentuan pasal 96 konstitusi, amandemen dapat diadopsi jika memperoleh persetujuan minimal 2/3 suara parlemen, dan didukung oleh lebih 50% suara rakyat melalui referendum.

Alih-alih memilih jalan yang pasti kompleks itu, Abe menghindari mengubah konstitusi. Namun, ia melakukan interpretasi ulang terhadap pasal 9. Cara ini hanya membutuhkan dukungan 19 suara anggota kabinet saja. Selanjutnya, undang-undang baru yang mengacu pada reinterpretasi itu hanya butuh seperdua suara dukungan parlemen, baik dari majelis tinggi maupun majelis rendah.

Alasan utama mengadopsi kebijakan keamanan baru ini adalah dinamika keamanan regional yang semakin meningkat. Pada satu sisi, China semakin menunjukkan agresifitas politik internasional, dengan meningkatkan upaya klaim wilayah terhadap Laut China Selatan melalui “teori sembilan titik” yang diakuinya sepihak.

Selain itu, Korea Utara dibawah rejim Kim Jong Un terus melakukan provokasi regional melalui serangkaian pengembangan senjata nuklir.

Sementara di dalam negeri, eksistensi pangkalan militer Amerika Serikat di Okinawa terus menuai kritik. Amerika Serikat juga memiliki orientasi baru terhadap kawasan Asia Timur dan cenderung menghindari benturan dengan China.

Hubungan Jepang dengan Korea Selatan juga masih diwarnai ketidakstabilan. Kedua pihak saling mengakui eksistensi sebagai “tetangga strategis”. Akan tetapi, sengketa terhadap kepemilikan wilayah di Pulau Takeshima, serta sejarah masa lalu yang belum selesai, masih menjadi faktor yang terus mengganjal hubungan keduanya.

Kedua negara memang sama-sama sekutu keamanan Amerika Serikat. Namun, perhatian Washington sedang terbelah antara konsolidasi dalam negeri dan perhatian terhadap Timur Tengah yang masih belum sepenuhnya terkendali.

Arsitektur keamanan regional seperti itulah yang membuat Jepang berada pada situasi ketidakpastian jangka panjang. Di sisi lain, setelah 25 tahun bangkit dari kehancuran paska perang dan kembali ke dunia internasional sebagai “negara normal”, sudah saatnya Tokyo meneguhkan kembali peran global Jepang.

Ambisi Internasional Jepang

Pada tahun 2006, Menteri Luar Negeri Jepang, Taro Aso, menyampaikan pidato monumental berjudul “The Arc of Freedom and Prosperity: Japan’s Expanding Diplomatic Horizon”. Pidato yang disampaikan pada Seminar yang diselenggarakan oleh The Japan Institute of International Affairs tersebut menjadi diskusi dikalangan akademisi dan praktisi hubungan luar negeri Jepang.

Pidato Aso mengandung dua pesan penting.

Pertama, “value oriented diplomacy”. Menurut Aso, selama berpuluh tahun, orientasi utama politik luar negeri Jepang adalah memperat hubungan dengan Amerika Serikat, dan terus membina hubungan baik dengan tetangga terdekat, terutama China, Korea Selatan, dan Rusia.

Kini tiba saatnya bagi Jepang untuk menambahkan pilar baru dalam politik luar negeri. Sebagai negara yang selama puluhan tahun konsisten menjaga demokrasi, memajukan hak asasi manusia, menjaga perdamaian, dan menjadi role model ekonomi pasar, sudah saatnya Jepang menjadi pelopor dalam penyebaran nilai-nilai universal tersebut.

Kedua, “the arc of freedom and prosperity”. Kawasan Eurasia (yang secara geografis membentuk pola lengkungan/arc) terus berkembang menjadi demokratis. Jepang dapat dan harus berperan untuk mendorong kebebasan (sebagai landasan demokrasi) yang diiringi dengan kesejahteraan di wilayah ini.

Alasan utama Taro Aso adalah Jepang telah banyak belajar dari sejarah. Negara ini mengalami berbagai pengalaman yang pernah dialami oleh negara manapun. Kini, Jepang telah cukup dewasa untuk menjalankan peran global tersebut.

Demokrasi dan Keamanan

Apa yang disampaikan Taro Aso direspon serius di dalam negeri. Puncaknya adalah pesan tahun baru 2015 yang disampaikan oleh Kaisar Jepang, Akihito. Memasuki tahun ke-70 paska perang dunia, Kaisar meminta agar semua pihak belajar dari berbagai kesalahan masa lalu dan merumuskan arah baru bangsa.

Pada hari yang sama, Perdana Menteri Shinzo Abe “menerjemahkan” pesan Kaisar tersebut dan menekankan perlunya segera diimplementasikan gagasan “Jepang Baru”, yang pada dasarnya mengkristalisasi pandangan Taro Aso sejak 2006 lalu.

Demokrasi dan keamanan mungkin merupakan terminologi yang saling bertentangan. Akan tetapi, dalam sejarah modern kedua konsep ini sebenarnya berada pada ruang yang sama.

Ketika Amerika Serikat memulai kampanye global demokratisasi, program bantuan demokrasi itu merupakan elemen dari operasi militer dan keamanan di seluruh dunia.

Hal itulah yang nampaknya memicu Jepang untuk mengembalikan posisi militer dan kapabilitas pertahanannya melalui adopsi kebijakan keamanan baru. Pada satu sisi, negara ini perlu mengimbangi manuver agresif tetangganya, sementara pada saat yang sama melakukan penetrasi non militer untuk memastikan pengaruh regional dan internasional.

Tentu saja, pandangan sumir seperti ini akan membuka ruang debat menarik. Tetapi, dengan berbekal data ekonomi politik, dan telaah tentang strategi politik luar negeri Jepang dalam beberapa tahun terakhir, kita akan menyaksikan interaksi menarik yang melibatkan kepentingan global Jepang, setidaknya di lengkungan Eurasia.(*)

Menunggu Akhir Perjalanan Najib Razak

Najib-Razak

Setelah melewati pemilu yang mendebarkan pada 9 Mei 2018, rakyat Malaysia akhirnya memutuskan pilihan: mengakhiri kekuasaan Perdana Menteri Dato’ Sri Najib Razak. Hasil ini juga mengakhiri dominasi Barisan Nasional (BN) selama lebih enam dekade, sekaligus menandai kembalinya tokoh tua Dr. Mahathir Mohamad.

Sejak awal, misi utama yang diemban oleh Dr. Mahathir adalah mengakhiri kekuasaan Najib. Dengan menggunakan segala cara yang sah dalam politik realis, Dr. Mahathir menggalang kekuatan oposisi untuk mencapai tujuan ini.

Mengapa Najib Harus Berakhir?

Mahathir adalah perdana menteri Malaysia selama 22 tahun (1981-2003). Ia dikenal sebagai Bapak Modernisasi Malaysia, yang merancang masa depan Malaysia melalui Visi 2020. Mahathir membayangkan, Malaysia adalah negara industri maju yang mandiri pada tahun 2020, mencakup pencapaian pada segenap aspek kehidupan: kesejahteraan ekonomi, kehidupan sosial yang tertata, pendidikan kelas dunia, stabilitas politik, termasuk keseimbangan psikologis warganya.

Untuk mencapai itu, Mahathir menegaskan bahwa dibutuhkan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 7% selama periode 1990-2020. Dengan demikian, Gross Domestic Product (GDP) akan mencapai RM 920 Milyar, atau setara dengan US$ 240 Milyar.

Ketika Mahathir mengakhiri kekuasaan pada 2003, ia menyerahkan kepemimpinan kepada Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi dalam kondisi negara yang stabil. Badawi merasa bahwa ia hanya perlu melanjutkan garis pembangunan yang telah disiapkan untuknya. Maka, Badawi berusaha untuk fokus pada pengembangan sumber daya manusia sebagai modal pembangunan. Itulah sebabnya, beberapa kalangan menilai Badawi adalah Bapak Pembangunan Manusia (the Father of Human Capital Development) Malaysia.

Hingga kekuasaan beralih kepada Dato’ Sri Najib Razak pada tahun 2009, ada persoalan sosial mendasar di dalam negeri Malaysia yang sebenarnya berpotensi menjadi gangguan pada masa depan, yaitu hubungan antar-etnik dan relasi kekuasaan yang melatarinya.

Malaysia adalah negara multi etnik yang didominasi oleh tiga kelompok etnik, yaitu Melayu (50%), China (23%), dan India (7%). Sejarah kelam kerusuhan etnis paska pemilu 1969 menimbulkan korban jiwa ratusan etnis China (laporan Barat menyebut hingga 600-an, meskipun angka resmi pemerintah mencatat angka 200).

Sejak itu, isu etnik tidak pernah sepenuhnya hilang. Dalam setiap perhelatan politik nasional, selalu saja ada pihak yang mengutak-atik sentimen etnis untuk kepentingan politik.

Ketika Najib Razak mendeklarasikan program One Malaysia pada 2010, ia sebenarnya membawa misi menciptakan harmoni etnis, persatuan nasional, dan pemerintahan yang efisien. Alih-alih menghilangkan sentimen etnis, program ini justru menjadi semacam justifikasi politik bahwa isu etnis adalah sesuatu yang kritikal.

Pada tahun 2015, misalnya, kelompok demonstran yang didominasi oleh etnik China menyuarakan pemakzulan Najib. Hal ini dijawab oleh mobilisasi etnik Melayu yang turun ke jalan dan secara terbuka mencela etnik China.

Terseret Kasus Korupsi

Sebagai bagian dari upaya mempercepat konsolidasi modal untuk pembangunan, pemerintahan Najib Razak mendirikan 1 Malaysia Development Berhad (1MDB). Perusahaan milik pemerintah yang diinisiasi sejak 2009 ini mengemban misi sebagai pengendali inisiatif strategis dalam pembangunan jangka panjang, melalui kemitraan global dan penanaman modal asing langsung (Foreign Direct Investment, FDI).

Banyak kalangan, terutama kelompok konservatif, menilai bahwa 1MDB merupakan langkah “menyerahkan” diri Malaysia kepada rejim kapitalisme global, sesuatu yang sangat ditentang oleh Mahathir.

Menariknya, 1MDB justru pertama kali memperoleh kritik terbuka dari Anwar Ibrahim, tokoh politik yang sebelumnya merupakan musuh bebuyutan politik Mahathir Mohamad. Nampaknya, langkah Najib dengan mendirikan 1MDB serta munculnya isu korupsi didalamnya, telah memicu bersatunya kembali Anwar Ibrahim dan Mahathir.

Kemarahan Mahathir tidak terbendung lagi setelah terkuaknya dugaan penyalahgunaan anggaran 1MDB hingga US$ 700 juta. Ia secara terbuka memulai upaya menjatuhkan Najib, bergabung dengan kelompok oposisi, dan membentuk koalisi Pakatan Harapan (Aliansi Harapan) pada 2015.

Dalam setiap pidato politiknya, Mahathir berulang kali menyuarakan korupsi yang dilakukan Najib, bahkan dengan bahasa yang sangat sarkastik. Ia sampai-sampai mengaitkan Suku Bugis di Sulawesi Selatan sebagai bangsa perompak, sebagai justifikasi korupsi Najib yang memiliki darah Bugis.

Pragmatisme Mahathir, Masa Depan Demokrasi

Setelah dilantik sebagai Perdana Menteri baru, langkah politik pertama yang diambil Mahathir menunjukkan pragmatisme. Ia membebaskan Anwar Ibrahim, mantan lawan politiknya yang kini menjadi sekutu baru. Ia cekal Najib ke luar negeri dan melanjutkan penyelidikan korupsi yang pernah dihentikan oleh Jaksa Agung Mohamed Apandi Ali pada 2016 lalu.

Pada era kekuasaan yang pertama (1981-2003), Mahathir Mohamad adalah sosok kontroversi, namun ia mewakili tipikal pemimpin Asia Tenggara pada masanya: berhasil dengan pembangunan ekonomi dan pertumbuhan tinggi, namun mengekang demokrasi dan keterbukaan politik. Anwar Ibrahim, yang kini menjadi mitra koalisinya, adalah contoh bagaimana Mahathir pernah menjalankan kekuasaan represif.

Namun demikian, ada paradoks menarik dalam demokrasi Malaysia pada Pemilu Raya 9 Mei lalu. Beberapa kandidat parlemen dari kaum muda justru memperoleh mandat rakyat, bersamaan dengan suara yang diperoleh Mahathir. Ada semacam kepercayaan terhadap bangkitnya demokrasi, namun juga ada ketidakpercayaan terhadap kemampuan figur baru pada tingkat nasional. Maka, Mahathir menjadi jalan keluar.

Pragmatisme politik akan sulit untuk bersisian dengan skenario demokrasi yang ajeg. Gejala ini sejak awal telah tampak pada koalisi Pakatan Rakyat. Sesaat setelah penggeledahan terhadap Najib Razak pada Rabu (16 Mei 2018) yang berlanjut hingga Kamis dini hari, kritik justru datang dari dalam koalisi sendiri. Adalah Nurul Izzah Anwar (Wakil Presiden Partai Keadilan Rakyat, juga putri Anwar Ibrahim) yang secara terbuka mengungkapkan hal itu. Ketika ayahnya menghadapi masalah hukum di era pemerintahan Mahathir yang pertama, Nurul Izzah pernah merasakan rumahnya digeledah hingga dini hari. Nampaknya, ia masih trauma.

Sekarang kita patut bertanya, dan menunggu. Apakah tujuan utama Pakatan Rakyat adalah mengembalikan semangat visi 2020 pada rel semula? Ataukah mengakhiri kekuasaan Najib Razak dan tuduhan korupsinya?

Melihat bagaimana komposisi politik paska Pemilu Raya, maka satu hal yang kemungkinan besar akan terjadi adalah berakhirnya pengaruh Najib Razak secara total. Sementara proses demokrasi Malaysia nampaknya akan mengalami penundaan, bahkan bisa saja lebih buruk. Partai-partai koalisi dalam Pakatan Rakyat, yang terbiasa selama puluhan tahun menjadi oposisi, kini harus mengubah mind set secara cepat menjadi partai berkuasa. Jika transformasi ini gagal, maka kita akan menyaksikan fenomena oposisi yang memakan dirinya sendiri.(*)

Rencana Kaisar Akihito Mengundurkan Diri

Kaisar Jepang, Akihito, akan mengundurkan diri. Rencana ini telah terdengar sejak tahun lalu, meskipun tidak dapat terkonfirmasi. Pada Juni 2016, sempat terdengar kabar dari dalam Istana kekaisaran tentang desas-desus rencana ini. Namun pejabat resmi Istana Kekaisaran Jepang enggan untuk mengkonfirmasinya.

Banyak kalangan yang gamang. Pengunduran diri seorang kaisar yang masih hidup di Jepang terakhir terjadi sekitar 200 tahun lalu.  Ketika itu, Kaisar Kokaku mengundurkan diri pada tahun 1817. Sehingga, ketika kabar ini merebak, banyak kalangan menganggapnya sebagai hal luar biasa. Karena sangat tidak lazim, sebagian lagi menganggapnya sebagai isu.

Namun demikian, berita itu sempat dilansir oleh NHK, badan penyiaran Jepang yang memiliki kredibilitas tinggi.

Isu menjadi kenyataan, ketika pada Mei 2017 lalu, Pemerintah Jepang mengajukan rancangan undang-undang tentang pengunduran diri Kaisar Akihito.  Juga rencana mengalihkan kekuasaan kekaisaran kepada anak pertamanya, Pangeran Naruhito. Pada bulan Juni 2017, rancangan undang-undang itu diloloskan oleh parlemen Jepang (Diet). Pemerintah Jepang diperintahkan untuk mempersiapkan proses transisi kekuasaan kaisar.

Pengunduran diri ini menjadi semakin jelas, ketika pada Jum’at, 1 Desember 2017, Dewan Rumah Tangga Kekaisaran mengadakan rapat untuk mulai mempersiapkan seremoni dan prosesi pengunduran diri Kaisar Akihito. Sekaligus juga pengangkatan Pangeran Naruhito menjadi Kaisar yang baru. Proses ini perlu dipersiapkan sejak dini, mengingat ini bukanlah peristiwa lazim. Peristiwa yang sebelumnya terjadi pada 200 tahun lalu adalah sangat langka.

Akihito, Kaisar Rendah Hati

Dalam tradisi Jepang, kaisar adalah sentra kekuasaan negara dan simbol pemersatu masyarakat. Kaisar dijuluki “Tenno” yang berarti “memiliki kedaulatan atas surga”. Sepanjang sejarah Jepang, fungsi kaisar melalui dinamika. Sejak tahun 1947 (yaitu sejak Jepang mengadopsi konstitusi baru yang dirancang oleh Komando Pasukan Sekutu pimpinan Amerika Serikat), Kaisar Jepang dinyatakan sebagai “simbol kepala negara”, yang tidak lagi memiliki kekuasaan eksekutif.

Akihito mewarisi kekuasaan kaisar dari ayahnya, Hirohito, yang melewati masa-masa tersulit Jepang modern. Hirohito adalah kaisar yang secara langsung mengumumkan melalui radio penyerahan diri Jepang sebagai pertanda kekalahan dalam Perang Dunia II. Komandu Pasukan Sekutu di Asia Pasifik dibawah pimpinan Jenderal Mac Arthur yang kemudian datang dan mengubah banyak hal di dalam negeri Jepang (termasuk menulis konstitusi baru), menyadari pentingnya posisi Kaisar dalam masyarakat Jepang. Sehingga, lembaga ini tidak disentuh secara signifikan.

Hirohito terus menjalankan kekuasaan kaisar hingga akhir hayatnya pada 1989. Akihito yang menggantikannya mendapatkan gelaran Heishei, yang berarti “kedamaian dimana-mana”. Dalam tradisi Jepang, sebutan era kekaisaran ini akan diberikan kepada kaisar setelah wafatnya. Gelar ini berkaitan dengan upaya yang ia lakukan dalam meneruskan upaya ayahnya untuk mengembalikan kejayaan Jepang setelah kalah perang, dan kembali ke tatanan masyarakat internasional yang penuh perdamaian.

Akihito dikenal sebagai kaisar dengan karakter dan gaya kepemimpinan yang berbeda dengan ayahnya, bahkan kaisar-kaisar sebelumnya. Ia memiliki karakter rendah hati (down to earth), mendobrak beberapa kebiasaan yang diwariskan turun-temurun dalam tradisi kekaisaran Jepang.

Pada bulan April 1959, Akihito memutuskan untuk menikah dengan Michiko Shoda. Perkawinan ini mendobrak tradisi kekaisaran yang telah dipertahankan selama 2.600 tahun, dimana Michiko adalah rakyat biasa yang bukan berasal dari keturunan bangsawan.

Pada bulan Juni 2016, Akihito menyampaikan pidato televisi yang sangat langka. Dalam catatan, sejak tahun 1945, hanya ada 3 kali pidato kaisar didepan umum, dua lainnya adalah pidato Kaisar Hirohito yang menyatakan kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, serta Pidato Akihito pada 2011 ketika terjadi bencana tsunami di Fukushima.

Pidato Akihito pada 2016 juga merupakan hal tidak lazim, dimana dia secara terbuka mengutarakan kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan dirinya sehingga dapat mengganggu tugas-tugasnya memimpin negara. Adalah tidak lazim seorang Kaisar mengungkapkan persoalan kesehatan dirinya kepada publik. Ayahnya, Hirohito, diketahui mengidap penyakit yang diumumkan terbuka hanya setelah wafatnya.

Akihito juga secara berulangkali menyatakan penyesalannya atas apa yang telah dilakukan Jepang selama Perang Dunia II. Ia mencatatnya sebagai peristiwa kelam yang tidak perlu terjadi lagi, dan ia mendorong agar Jepang menjadi bangsa yang menghilangkan sikap agresif dalam hubungan internasional. Kaisar Akihito mengunjungi China pada tahun 1992 (suatu kunjungan pertama kali dari kalangan monarki Jepang, dan banyak memicu kontroversi di dalam negeri). Meskipun Kaisar tidak meminta maaf, namun ia secara terang menyatakan kesedihannya atas perang yang terjadi pada masa lalu antara kedua negara.

Dampak Pengunduran Diri

Apa yang akan terjadi jika Akihito mengundurkan diri?

Secara fundamental, dari sisi politik tidak akan banyak perubahan. Jepang memang dikenal sebagai negara monarki, yang berarti memiliki basis kekuasaan raja atau kaisar yang diwariskan turun-temurun. Akan tetapi kekuasaan kaisar telah dibatasi sampai pada titik paling rendah, sehingga hanya menjadi simbol pemersatu bangsa saja.

Meskipun demikian, makna kekuasaan simbolik kaisar bukanlah sesuatu yang tidak bermakna. Justru bagi banyak orang Jepang, posisi kaisar yang demikian itu merupakan kekuatan tersendiri. Kaisar akan menjadi tempat terakhir untuk mengambil keputusan ketika terjadi kegagalan mencapai konsensus.

Keputusan kaisar untuk mengundurkan diri sebelum waktunya dapat diinterpretasikan banyak hal. Dan juga mendatangkan banyak spekulasi.

Pada satu sisi, hal ini menunjukkan sikap kaisar yang menyadari perkembangan jaman, modernisasi yang semakin maju, dan penerimaan publik terhadap institusi kekaisaran yang makin turun. Namun di sisi lain, hal ini dapat juga diartikan sebagai respon terhadap kondisi aktual diri kaisar yang memang secara fisik mulai menurun secara alamiah.

Dibalik itu, sebagian kalangan juga meramalkan bahwa hal ini berkaitan dengan isu perbedaan pendapat dikalangan istana kekaisaran sendiri berkaitan masa depan penerus kaisar.

Sebagaimana diketahui, pewaris tahta kekaisaran Jepang setelah Kaisar Akihito adalah putranya, Pangeran Naruhito. Tidak ada debat, putra pertama Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko ini akan melanjutkan tahta.

Pangeran Naruhito hanya mempunyai seorang anak, seorang perempuan bernama Putri Aiko. Ini menimbulkan debat, apakah Putri Aiko (yang lahir pada 2001) akan mewarisi tahta kelak?

Undang-undang Kekaisaran Jepang 1947 menganut sistem Agnatic Primogeniture, dimana tahta diturunkan kepada garis darah laki-laki. Bukan Absolute Primogeniture (yaitu keturunan pertama, terlepas jenis kelaminnya).

Nampaknya, Kaisar Akihito menyadari kontroversi ini, dan ingin memberi ruang dialog sejak awal. Ia tahu, bahwa ketika tahta diturunkan kepada anaknya, Pangeran Naruhito, saat itu juga akan ada pengukuhan mengenai siapa yang akan menjadi pewaris selanjutnya.

Selain hal-hal itu, dampak sosial dan politik dari pengunduran diri sebagai kaisar tentu tidak banyak. Namun demikian, rakyat Jepang akan selalu mengenang Kaisar Akihito, sang Putra Matahari, sebagai sosok yang membawa pembaharuan Jepang modern dengan kerendahan hatinya yang mengagumkan.(*)