Zimbabwe, Negara Tanpa Mata Uang Resmi?

Presiden Zimbabwe, Emmerson Mnangagwa yang baru seminggu menjabat setelah mengambil alih kekuasaan dari Robert Mugabe yang telah berkuasa selama 37 tahun, mengumumkan nama-nama kabinetnya. Ia menunjuk dua tokoh sentral militer dalam “kudeta” 15 November.

Tentu saja, kritikan dari dalam negeri bermunculan. Mnangagwa dianggap sedang melakukan politik balas jasa, sekaligus melindungi dirinya dibalik perisai militer. Dengan usia 75 tahun, Mnangagwa patut diakui telah melewati usia puncaknya untuk menghadapi oposisi politik dengan cara-cara politik pula.

Tetapi, kali ini saya tidak ingin membahas hal itu. Ada isu lebih menarik untuk menjadi bahan diskusi, yaitu soal mata uang (currency) Zimbabwe. Negara ini alami krisis ekonomi politik berkepanjangan, yang berdampak pada kegagalan mengelola mata uang. Bahkan, negara ini dapat dikatakan tidak memiliki mata uang.

Zimbabwe secara formal diakui sebagai republik independen pada 18 April 1980.  Meskipun pada 1964 negara ini mendeklarasikan kemerdekaan dari kolonisasi Inggris yang telah berlangsung sejak tahun 1888, namun deklarasi tersebut tidak sepenuhnya mendapat pengakuan, akibat masih adanya dominasi Rhodesia yang juga tidak diakui.  Hingga kemerdekaan pada 1980 itu, Zimbabwe lebih dikenal sebagai Rhodesia.  Pada masa itu, negara ini menggunakan mata uang Rhodesian Dollar (R$).

Sejak kemerdekaan Republik Zimbabwe pada 1980, mata uang Rhodesian Dollar digantikan dengan Zimbabwean Dollar, dengan nilai tukar yang setara dengan Rhodesian Dollar. Namun, karena tekanan inflasi yang tinggi, bahwa hingga mencapai apa yang disebut hyperinflasi, Zimbabwean Dollar hanya berlaku hingga 2009.  Kini, Zimbabwe menggunakan Dollar Amerika (US$) sebagai mata uang resmi negara.

Ekonomi Politik Mata Uang

Uang atau mata uang pada dasarnya merupakan alat transaksi.  Namun, nilai suatu mata uang ditentukan oleh banyak faktor yang kompleks.  Secara sederhana, mata uang dapat dibuat oleh pemerintah (negara) dengan cara mencetak dan menciptakan konvensi atau kesepakata dalam masyarakat (teori konvensi).  Jika seluruh elemen masyarakat sepakat menerima uang dan mata uang, maka jadilah ia sebagai mata uang, yang dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran yang sah.

Akan tetapi, dalam proses sehari-hari tidaklah semudah itu.  Teori-teori klasik seperti Teori Kuantitas (yang diperkenalkan oleh David Ricardo dan kemudian disempurnakan oleh Irving Fisher), misalnya, menunjukkan ada faktor dinamis dalam memberlakukan suatu mata uang.  Dasarnya yang pertama adalah mata uang itu harus “diterima” secara luas masyarakat.

Dalam perkembangan modern, isu mata uang menjadi lebih dinamis lagi ketika dikaitkan dengan perdagangan internasional.  Suatu mata uang bukan saja menjadi alat pembayaran dalam negeri, tetapi menjadi alat untuk mengukur nilai komoditas relatif terhadap mata uang negara lain.

Dengan demikian, uang atau mata uang bukan saja alat ekonomi.  Ia memiliki dimensi politik yang sangat lekat.  Bahkan, jika dikaitkan dengan fungsinya sebagai alat pembayaran, dimensi politik dari mata uang jauh lebih dominan.  Hal ini dapat dilihat dari syarat-syarat agar suatu mata uang dapat diterima (sebagai alat pembayaran).  Mata uang itu setidaknya memiliki syarat: dapat diterima secara umum (acceptability), bernilai dan nilai itu dijamin oleh pemerintah, bahan tahan lama (durability), kualitasnya sama (uniformity), jumlah yang beredar memenuhi kebutuhan masyarakat, tidak mudah dipalsukan (scarcity), mudah dibawa-bawa (portable) dan mudah dibagi tanpa mengurangi nilainya (divisibility), serta nilainya stabil.

Kegagalan Zimbabwe dalam mempertahankan kelangsungan mata uangnya (Zimbabwe Dollar) dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait, termasuk tidak terpenuhinya seluruh pra-syarat sebagai mata uang.  Masyarakat Zimbabwe tidak percaya bahwa mata uang mereka memiliki kemampuan ekonomi, akibat ketidakmampuan pemerintah memberikan keyakinan itu.  Sehingga, masyarakat lebih memilih untuk menggunakan mata uang asing sebagai alat pembayaran.

Hyper inflasi dan Zimbabwe Dollar

Akibat ketidakpercayaan itu, Zimbabwe pernah mengalami inflasi terburuk dalam sejarah bangsa-bangsa di dunia.  Mata uang Zimbabwean Dollar yang pada awal diperkenalkan memiliki nilai setara dengan Dollar Amerika ternyata tidak diterima oleh masyarakat.  Ada kecurigaan bahwa uang-uang yang dikeluarkan oleh Bank Sentral Zimbabwe memiliki kualitas rendah, sehingga mudah dipalsukan.  Selain itu, ada kecurigaan bahwa nilai mata uang ini tidak stabil sebab kepercayaan publik terhadap pemerintah begitu rendahnya.

Penyebab hyperinflasi yang tinggi adalah adanya kecurigaan bahwa pemerintahan Robert Mugabe mencetak uang dalam jumlah banyak untuk membiayai keterlibatannya dalam Perang Congo, yang berlangsung pada tahun 2000.  Uang juga dicetak besar-besaran untuk membiayai gaji tinggi pejabat pemerintah.  Hal ini berdampak pada hilangnya nilai real uang Zimbabwe dibandingkan dengan kondisi aktual ekonomi.

Pada puncaknya, nilai mata uang Zimbabwe terjun bebas, dan dinyatakan sebagai mata uang paling tidak bernilai di dunia.  Pemerintah mencetak uang kertas yang setiap lembarnya bahkan memiliki 100 trilyun (100.000.000.000.000).  Namun, uang sebesar itu nilainya setara dengan 40 cent Amerika, atau hanya sekitar US$ 0.4.  Kalau dikonversi ke Rupiah, kira-kira senilai Rp. 5.000,- saja.

Mata Uang Saat Ini

Pada tahun 2009, pemerintah kemudian membatalkan mata uang Zimbabwean Dollar dan mengumumkan US$ sebagai mata uang resmi pemerintah. Pada Januari 2014, Bank Sentral Zimbabwe mengumumkan bahwa selain US Dollar, mata uang yang diterima sebagai alat pembayaran yang sah di dalam negeri adalah South African rand, Botswana pula, Pound sterling, Euro, Australian dollar, Chinese yuan (renminbi), Indian rupee, dan Japanese yen.

Pertanyaannya, apakah Zimbabwe masih membutuhkan mata uang sendiri?  Dan bagaimana kemungkinan untuk memberlakukan hal ini?

Di seluruh dunia, mata uang merupakan alat pembayaran dengan banyak fungsi tambahan.  Bahkan, mata uang juga memiliki unsur-unsur nasionalisme di dalamnya, dimana pahlawan nasional atau obyek-obyek kebanggaan nasional ditampilkan.  Sebagai negara merdeka, keberadaan mata uang merupakan indikasi kedaulatan.  Hal ini menunjukkan bahwa suatu negara memiliki kemampuan untuk mengatur dirinya dan memperoleh kepercayaan dari masyarakatnya.

Hanya saja, belajar dari pengalaman terhadap buruknya tata kelola pemerintahan di Zimbabwe, nampaknya masih butuh waktu panjang bagi negara ini untuk memiliki mata uang sendiri.  Meskipun pemerintahan Presiden Robert Mugabe telah berakhir, namun fakta bahwa pemerintahan baru dibawah Emmerson Mnangagwa justru mengawali langkahnya dengan politik balas jasa (bahkan tidak memberi ruang bagi kelompok oposisi dalam kabinetnya).  Hal ini akan sulit mendatangkan kepercayaan rakyat.

Padahal, dari berbagai faktor yang mempengaruhi kekuatan suatu mata uang, kepercayaan rakyat terhadap pemerintah selalu memainkan peranan penting.  Disinilah sebenarnya tantangan utama pemerintahan di Zimbabwe, baik sekarang maupun yang akan datang.(*)

Timur Tengah, Masih Saja Tentang Konflik dan Palestina

Ketika pertama kali belajar hubungan internasional (HI), sekitar 25 tahun lalu, mata kuliah Politik Regional Timur Tengah adalah kurikulum wajib.  Suka tidak suka, kami harus mempelajarinya.  Saya pribadi kurang tertarik dengan topik ini.  Mungkin kemampuan intelijensi saya dibawah standar, sehingga sulit mencerna rumitnya peta hubungan negara-negara di kawasan ini, baik intrakawasan maupun dengan negara eksternal.

Era perang dingin berakhir pada Desember 1991.  Namun demikian, berbagai literatur studi HI dan Timur Tengah masih didominasi setting situasi perang dingin hingga bertahun-tahun kemudian.  Maka, argumen-argumen yang dikemukakan para ahli tentang perang dan damai maupun konflik dan kerja sama di kawasan Timur Tengah sangat didominasi oleh setting perang dingin.  Mainstream argumen, tentu saja, adalah teori-teori realis, mulai dari balance of power (dari era David Hume hingga Kenneth N. Waltz), security dilemma (John H. Herz atau Glenn H. Snyder), proxy war (Robert Jervis), atau hegemonic stability (Robert O. Keohane, A.F.K. Organsky, Immanuel Wallerstein, atau David Kindleberger).

Tahun-tahun itu internet belum semassif sekarang.  Referensi paling populer di antara mahasiswa adalah buku-buku karya awal M. Riza Sihbudi.  Beliau adalah penulis dengan tema Timur Tengah produktif masa itu, yang menerbitkan: Bara Timur Tengah (1991), Palestina: Solidaritas Islam dan Tata Politik Dunia Baru (1992), Eksistensi Palestina di Mata Teheran dan Washington (1992), Timur Tengah, Dunia Islam, dan Hegemoni Amerika (1993), serta Konflik dan Diplomasi di Timur Tengah (1993), Biografi Politik Imam Khomeini (1996).  Belakangan, saya masih menemukan lagi dua buku beliau yang ditulis dalam rentang waktu 10 tahun: Indonesia Timur Tengah, Masalah dan Prospek (1997) dan Menyandera Timur Tengah (ditulis tahun 2007).

Beberapa Referensi Dekade 1990-an

Tahun 1995, M. Riza Sihbudi bersama beberapa pengkaji hubungan internasional dan Timur Tengah menulis buku yang kemudian sangat populer: Profil Negara-negara Timur Tengah (Buku Kesatu).  Sayangnya, hingga kini Buku Kedua dari profil ini tidak kunjung terbit.  Para penulis adalah (Alm) Zainuddin Djaffar, Prof. Dr. A. Rahman Zainuddin, M.A., Hamdan Basyar, Amris Hassan, dan Drs. Dhurorudin Mashad.  Diantara mereka, saya hanya pernah berinteraksi dengan Prof. Zainuddin Djaffar yang akrab disapa Mas Buyung (al-Fathihah untuk beliau).  Beliau menjadi dosen saya ketika kuliah S2 di UI.

Selain itu, referensi kami untuk topik Timur Tengah di dekade 1990-an itu adalah buku M. Amien Rais berjudul “Timur Tengah dan Krisis Teluk” yang ditulis pada 1990.  Menurut dosen-dosen kami, Mas Amien adalah “dosen terbang” yang secara rutin ke Makassar mengajar mereka di dekade 1980-an, pada masa-masa awal berdirinya HI Unhas.

Meskipun tidak serius membaca semua buku itu, saya mendapat garis merah untuk menjelaskan Timur Tengah pada masa perang dingin.  Kawasan ini menjadi dinamis karena dua faktor.  Pertama, arena pertarungan para super power dunia, yang didominasi oleh Amerika Serikat (dengan North Atlantic Treaty Organization, NATO) dan Uni Sovyet (dengan Pakta Warsawa).  Kedua, potensi minyak di kawasan yang mencakup dua per tiga dari cadangan minyak dunia.  Louise Fawcett, menjelaskan hal ini lebih detail dalam “International Relations of the Middle East” (2005).

Itu adalah cerita 25 tahun lalu.  Amerika Serikat dan Uni Sovyet (yang bubar pada 1991 itu) sebelumnya menjadikan  Timur Tengah sebagai instrumen mengukur balance of power melalui praktek proxy war yang sistematis.  Hasilnya adalah, belasan konflik dan perang yang terjadi di Timur Tengah adalah refleksi dari perseteruan kedua adi daya.  Konflik Arab-Israel yang teraktualisasi pada Peperangan 1948, Perang Enam Hari (1967), atau Perang Yom Kippur (1973).  Begitu juga, perang Sovyet-Afghanistan yang berlangsung selama 9 tahun (1979 – 1989) sesungguhnya adalah perang antara Sovyet dan Amerika Serikat, mengingat dukungan nyata melalui suplai persenjataan dan dana dari Washington kepada kelompok Mujahidin.

Palestina Kini

Isu Palestina juga menjadi ajang “mainan” negara-negara, baik di kawasan maupun di luar kawasan.  Sejak Otoritas Pemerintahan Palestina dibentuk oleh Liga Arab pada 1948, sejak itu pula wilayah ini tidak pernah berhenti dari konflik.  Maka setiap waktu, masyarakat dunia dijejali kisah tentang Dataran Tinggi Golan, Tepi Barat Sungai Yordan, dan Jalur Gaza.  Kisah ini sudah berlangsung puluhan tahun, pada era modern ini.  Meskipun berkali-kali perundingan dan upaya damai digelar, semua berakhir tanpa akhir yang menenangkan.

Hari ini, kita mendapat lagi kabar bentrokan yang terjadi di Palestina.  Menyusul penembakan tentara Israel terhadap Imam Masjid Al-Aqsa, terjadi demonstrasi yang menyebabkan sekitar 50 warga sipil Palestina tertembak.  Kisah kekerasan seperti ini telah ada sejak era “Dunia Dalam Berita”.

Saya pernah mengikuti ulasan seorang pakar tentang bagaimana rumitnya struktur konflik di kawasan ini.  Faktor ekonomi, politik, ideologi berkelindan saling silang, membentuk jaringan yang lebih rumit dari jaring laba-laba.  Artinya, sebagaimana jaring laba-laba, kerumitan jaring itu memiliki titik sentrum.  Sayangnya, kebanyakan pengkaji lebih senang melihat kawasan ini secara parsial.(*)

 

Taliban, Melihat Sisi Lain dari Petingginya

Tanggal 27 Juni 2012, Graduate School of Global Studies, Doshisha University menggelar perhelatan besar: International Conference on Afghanistan Reconciliation and Peace Building. Untuk pertama kalinya, petinggi  Taliban hadir dalam pertemuan non negosiasi  di luar negeri.

Wakil dari Taliban yang hadir dalam pertemuan ini adalah Shaikh Iadena Mohammad.  Beliau adalah anggota Political Council of Islamic Emirate of Afghanistan.  Ini adalah nama yang digunakan sekarang setelah mereka digusur paksa oleh pasukan Amerika pada tahun 2001.  Shaikh Iadena adalah seorang pria berwajah teduh, dengan sorban putih dan janggut panjang.

Saya beruntung memperoleh kesempatan untuk bertemu langsung dan berbincang (dengan bantuan seorang penerjemah).  Sebagaimana dalam presentasinya, beliau kembali menegaskan komitmen Taliban terhadap pasukan Amerika di Afghanistan.  Taliban siap membangun perdamaian abadi, hanya dan jika hanya diawali dengan penarikan mundur pasukan Amerika dari Afghanistan.

Menurut Shaikh Omar, Taliban sebenarnya membangun komunikasi dan negosiasi rahasia dengan Amerika pada beberapa pertemuan di Qatar. Namun, pada bulan Maret 2012, Taliban menarik diri dari proses negosiasi, karena Amerika menolak menerima syarat yang diajukan Taliban, yaitu pembebasan tawanan politik di penjara-penjara yang dikendalikan pasukan Amerika.

“Bagi kami, Amerika adalah penjajah.  Mereka menyerbu negara kami dengan cara tidak manusiawi.  Semua pihak mengkonfirmasi 120 ribu rakyat sipil Afghanistan menjadi korban kekejaman pasukan Amerika. Dan kami tidak bisa mentoleransi hal itu”, kata Shaikh Iadena.

Konferensi ini juga dihadari oleh Advisor to the President on Internal Security of Islamic Republic of Aghanistan, Dr. Masoom Stanekzai. Beliau diutus khusus oleh Presiden Hamid Karzai untuk menghadiri pertemuan ini.

Selama pertemuan, nampak jelas perbedaan visi pemerintah dan Taliban tentang kehadiran pasukan Amerika.  Meskipun ada timeline yang telah dirancang untuk penarikan mundur pasukan Amerika pada 2014, namun kelompok Taliban tidak percaya sepenuhnya.  “Amerika adalah super power, semua mengakui hal itu. Kami juga mengakui hal itu. Kami membutuhkan bantuan Amerika dan komunitas internasional untuk masa depan Afghanistan yang lebih baik. Tetapi, kami tidak akan berkompromi dengan hadirnya pasukan Amerika di tanah Afghanistan”, tegas Shaikh Iadena.

Ketika Dr. Masoom Stanekzai menegaskan bahwa Amerika memiliki pangkalan militer di lebih 100 titik di seluruh dunia. Ada pasukan Amerika di Arab Saudi, di Qatar, bahkan di Jepang, tetapi negara-negara itu tidak mempersoalkan hal tersebut.  Sehingga, ia merasa tidak logis jika Taliban mempersoalkan kehadiran pasukan Amerika di Afhanistan.

Dengan sangat diplomatis, seorang tokoh Mujahiddin dari faksi Hezb-i Islami yang turut hadir sebagai nara sumber, Dr. Ghairat Baheer, mengungkapkan “Ya, tetapi di negara-negara tersebut, pasukan Amerika tidak membunuh ratusan ribu rakyat sipil”.  Hezb-i Islami maupun Taliban memiliki visi yang sama tentang penarikan pasukan Amerika dari Afghanistan.

Asahi Shimbun, salah satu koran terkemuka di Jepang yang mengadakan wawancara khusus dengan Shaikh Iadena disela-sela rehat pertemuan ini, menuliskan dalam laporannya (di link ini) bahwa kehadiran tokoh penting Taliban dalam forum internasional seperti ini adalah hal yang baru pertama kali terjadi.  Ini menunjukkan gejala perubahan orientasi gerakan Taliban, yang mulai membangun kampanye global.

Di akhir pertemuan, saya berkesempatan untuk berfoto bersama Shaikh Iadena Mohammad.  Sesaat sebelum foto, pengawal beliau mendatangi saya dan berbisik: “Mohon foto ini jangan disebarluaskan.  Beliau hingga kini masih tercatat sebagai salah satu tokoh yang paling dicari oleh Amerika Serikat”. Saya memastikan bahwa ini hanya untuk koleksi pribadi. Dalam hati, saya berkata “wow…!”***