Huawei, diantara perang dagang China vs Amerika

Huawei adalah perusahaan teknologi telekomunikasi yang mulai beroperasi pada 1987. Pada awalnya, perusahaan yang berkantor pusat di Shenzhen, Guangdong, China ini hanya memproduksi sparepart handphone.

Lambat laut, Huawei merambah ke wilayah lebih luas dalam dunia Information Technology (IT), termasuk jaringan telekomunikasi dan perangkat telekomunikasi canggih.

Kemajuan pesat Huawei ditunjang oleh komitmen manajemen terhadap riset dan pengembangan (Research and Development, R&D). Dari sekitar 188.000 pekerjanya, sekitar 76.000 (atau 40%) diantaranya bekerja di seksi R&D. Perusahaan ini memiliki 21 lembaga riset di seluruh dunia, dan mengalokasikan US$ 13.8 Milyar untuk dana riset. Sebagai perbandingan, APBD DKI Jakarta tahun 2018 berada diangka US$ 6 Milyar.

Di Amerika Serikat saja, Huawei memiliki pusat R&D seluas 100.000 kaki persegi di Texas, dan 200.000 kaki persegi di Silicon Valley.

Dengan kapasitas yang begitu besar, wajarlah Huawei tercatat sebagai perusahaan raksasa telekomunikasi dunia. Menurut catatan, Huawei adalah perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di dunia setelah Apple.

Rebutan Teknologi 5G

Pada bulan Oktober 2018, Verizon Wireless asal Amerika memproklamirkan diri sebagai perusahaan pertama yang mengadopsi teknologi 5G. Verizon menggunakan 5G untuk mendukung akses internet rumahan.

Sebelumnya, untuk mendukung penggunaan pada ponsel, Verizon menggandeng Motorola, perusahaan ponsel Amerika, melalui modul tambahan bernama Moto Mod yang digunakan bersamaan dengan ponsel Motorola Z3. Moto Mod diperkenalkan pada awal Agustus 2018.

Pada bulan April 2019, Korea Selatan mengumumkan bahwa Samsung Galaxy S10 5G sebagai ponsel berteknologi 5G yang operasional. Dengan dukungan operator SK Telecom, KT, dan LG UPlus, Korsel mengklaim sebagai negara pertama yang mengadopsi 5G untuk ponsel komersial.

Disisi lain, China sendiri memiliki ambisi besar dalam perang teknologi 5G ini. Negara ini tercatat menguasai 3.400 paten teknologi 5G, disusul oleh Korea Selatan (2.051 paten), dan Amerika diposisi ketiga dengan 1.368 paten (CNN Indonesia).

Disinilah Huawei berperan. Dari total paten yang dipegang China, sebanyak 1.529 paten (hampir 50%) diantaranya berada di tangan Huawei. Angka ini saja telah mengungguli jumlah paten Amerika.

Pada 24 Januari 2019, Huawei secara resmi meluncurkan chipset revolusioner bernama Balong 5000. Produk ini mengguncang jagad 5G, dengan keunggulan yang dapat ditanam pada berbagai perangkat, mulai ponsel, modem, maupun perangkat mobile di kendaraan dan internet rumahan.

Dengan desain mungil dan tingkat integrasi tinggi, Balong 5000 mendukung konektivitas 2G, 3G, 4G, dan 5G dalam satu chip. Prosesor ini secara efektif akan mengurangi latensi dan konsumsi daya saat bertukar data antara mode yang berbeda, serta meningkatkan pengalaman pengguna pada tahap awal penyebaran 5G secara komersial (Tempo Tekno).

Berbagai tuduhan terhadap Huawei

Sejak dekade 2000-an, Huawei menghadapi berbagai serangan. Pendiri perusahaan ini adalah seorang mantan militer China, Ren Zhengfei. Perusahaan ini juga memperoleh berbagai fasilitas pemerintah China, baik bantuan modal maupun keringanan pajak.

Negara-negara Barat, khususnya Amerika dan sekutu intelijennya, menuding Huawei melakukan praktek pencurian data dari seluruh dunia. Huawei juga dituding melanggar hak kekayaan intelektual. Produk-produk Huawei dituding menggunakan formula, routine dan script dari pihak lain secara tidak sah.

Lebih dari itu, Huawei dituduh sebagai perpanjangan tangan pemerintah China. Produk yang dihasilkan dan teknologi yang dimiliki dituding memiliki kaitan dengan operasi intelijen dan pengumpulan data untuk kepentingan militer China.

Pada tahun 2005, lembaga think tank yang berpengaruh di Amerika, RAND Corporation, merilis laporan dugaan keterlibatan Huawei dengan pemerintah China. Perusahaan ini disinyalir mensuplai data intelijen dari seluruh dunia kepada otoritas China, sebagai imbalan atas dukungan perintah pada aktivitas bisnisnya.

Pada tahun 2007, pendiri Huawei diperiksa oleh FBI atas tuduhan bekerja sama dengan Iran yang sedang dijatuhi sanksi oleh Barat. Sementara dalam kaitannya dengan keamanan data, pemerintah Amerika Serikat secara resmi melarang penggunaan produk-produk Huawei dan ZTE (juga asal China), dengan alasan “dapat merusak kepentingan inti keamanan Amerika Serikat”.

Pada Maret 2013, putri Ren Zhengfei, Meng Wanzhou, diinvestigasi oleh Amerika Serikat atas tuduhan melakukan perdagangan dengan Iran yang sedang dijatuhi sanksi.

Kegerahan Amerika

Pemerintah Amerika Serikat nampaknya gerah dengan kehadiran dan dominasi China dalam arena 5G. Teknologi 5G adalah masa depan internet yang telah dimulai sekarang. Para analis mengakui, kekuasaan global masa depan akan ditentukan oleh kepemilikan terhadap teknologi internet terbaru.

Huawei tidak saja memproduksi ponsel dan perangkatnya. Perusahaan ini juga menguasai sekitar 40 – 60% jaringan internet di seluruh dunia, seperti dilansir oleh BBC Indonesia. Dengan kendali ini, Huawei dapat melumpuhkan jaringan komunikasi global. Hal ini sangat mengkhawatirkan Washington.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akhirnya secara terbuka menyatakan Huawei sebagai perusahaan terlarang untuk melakukan penjualan perangkat teknologi di Amerika Serikat.  Pada tanggal 15 Mei 2019, Trump memasukkan Huawei dan beberapa perusahaan China lainnya ke dalam daftar hitam (blacklist). Dampaknya, Huawei perlu lisensi khusus jika akan berbisnis dengan perusahaan Amerika.  Google, yang pada bulan September 2015 bekerja sama dengan Huawei untuk meluncurkan ponsel berbasis Android Nexus 6P, serta merta menghentikan kerja sama. Tidak hanya itu, Google bahkan menghentikan update operating system Android pada ponsel Huawei.

Sikap Amerika Serikat, oleh kebanyakan analis, dipercaya sebagai dampak dari perang dagang dengan China.  Trump yang tampil dengan kebijakan Chauvinistik nampaknya ingin mengembalikan kejayaan Amerika dengan dasar keyakinan dirinya yang konservatif.

Dampak tidak terduga

Dalam perspektif realisme, berbagai tekanan yang ditujukan pada Huawei nampaknya memiliki alasan kuat. Dengan kapasitas teknologi dan kemampuan bisnis yang begitu dominan, Huawei berpotensi menjadi rebutan.  Amerika Serikat, yang secara formal tidak mampu mengendalikan Huawei, memilih jalan penguasaan dengan tindakan pembatasan dan pelarangan. Suatu pendekatan yang sebenarnya tidak populer.

Mungkin pepatah “sesuatu yang tidak membunuhmu akan menjadikanmu makin kuat” terdengar klise. Tetapi bagi Huawei, klise itu adalah fakta. Perusahaan berbasis di China ini kena imbas perang dagang Amerika versus China. Alih-alih lebur, Huawei justru menggeliat dan menguat.

0Shares