Faktor Ngabalin Terhadap Elektabilitas Jokowi – Ma’ruf Amin

Sejak 1 Mei 2018, Ali Mochtar Ngabalin diangkat sebagai Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Deputi IV KSP adalah Eko Sulistyo, yang membidangi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi.

Tugas Ngabalin adalah membantu fungsi komunikasi politik pemerintahan di bawah Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko.

(Tugas Ali Mochtar Ngabalin, Moeldoko: Bukan Juru Bicara Presiden – nasional Tempo.co https://nasional.tempo.co/read/1091853/tugas-ali-mochtar-ngabalin-moeldoko-bukan-juru-bicara-presiden)

Ngabalin seringkali menjadi nara sumber mewakili pemerintah. Mungkin karena dia masuk ke gerbong Pemerintahan Jokowi pada masa-masa menjelang Pilpres, maka aroma politik lebih kental.

Mau tidak mau, ketika tim kampanye Prabowo menyerang “hasil kerja pemerintahan Jokowi”, Ngabalin harus tampil menjadi “pembela”. Ia sebenarnya membela pemerintah, sesuai tugasnya. Namun sering terjebak menjadi pembela Jokowi yang juga sedang menjadi calon presiden.

Di sosial media, posisi Ngabalin tersebut dilihat dalam dua sisi.

Ada yang melihatnya positif, memberi dampak bagus bagi elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin. Dia memiliki kemampuan berbicara yang menarik seperti penjual obat. Juga ia piawai dalam hal ngotot.

Di tambah lagi, dia memiliki basis politik (partai Golkar) dan basis sosial sebagai Ketua Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia, meskipun ada yang anggap hal itu bohong (Klaim Jabat Ketum Bakomubin, Ali Ngabalin Dipolisikan http://cnn.id/351126).

Di sisi lain, sebagian publik menilai kehadiran Ngabalin memberi dampak negatif bagi elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin. Dari aspek tugas pokok, Ngabalin sering dianggap melampaui kewenangan. Alih-alih mendatangkan simpati, justru hal ini menimbulkan antipati publik.

Misalnya, ketika Ngabalin dengan lantang berbicara diberbagai kesempatan bahwa “tagar #2019gantipresiden adalah gerakan makar”. Atau saat Ngabalin berbicara dengan pilihan bahasa kurang etis kepada wakil ketua DPR, menggunakan sapaan “kau”. Nampaknya, Ngabalin sering lupa kalau dirinya adalah wakil pemerintah.

Dalam masa-masa kritis menjelang 17 April yang tinggal beberapa hari, seharusnya faktor Ngabalin menjadi perhatian Jokowi. Apakah kehadirannya membantu menaikkan atau justru menurunkan elektabilitas?

Sayangnya belum ada survei khusus tentang hal ini.

Namun demikian, dari jajak pendapat singkat melalui akun media sosial saya, kelihatannya publik menganggap faktor Ngabalin justru memberi sentimen negatif terhadap dampak elektoral Jokowi.

Apalagi, pada Pemilu 2014 lalu Ngabalin adalah pendukung Prabowo. Jejak digital pernyataan-pernyataan Ngabalin pada masa itu kini dimunculkan kembali. Bagi masyarakat awam (yang kurang paham politik) sikap seperti Ngabalin dianggap buruk, tidak punya konsistensi, bahkan bisa dianggap munafik.

Mumpung hasil survei Jokowi masih cukup tinggi (meskipun terus tergerus), maka sebaiknya sisa waktu menjelang pencoblosan dioptimalkan. Termasuk pula dengan opsi mengganti Ngabalin, atau menyuruhnya untuk hilang sebentar dari sorotan kamera dan wartawan.(*)

0Shares