Cara Pikir Era Westphalia

Dulu, terutama pada tahun 1648 ketika perjanjian Westphalia mula-mula disepakati, negara-negara di dunia euforia dengan kedaulatan nasional. Sehingga, kalimat-kalimat seperti: “ini urusan domestik, Anda jangan ikut campur”, atau “ini masalah dalam negeri, kami tidak peduli komentar asing” adalah ungkapan yang lazim diucapkan diplomat dan kepala negara.

Tetapi itu dulu, masa ketika jarak dari Tokyo ke Paris masih butuh waktu tempuh 2 sampai 3 bulan.

Seiring waktu, kemajuan peradaban, perubahan isu bersama manusia juga terjadi. Tokyo ke Paris kini hanya butuh 11 jam penerbangan langsung. Dengan interaksi virtual, bahkan tidak lagi butuh waktu.

Banyak persoalan yang tidak bisa lagi dengan sombong dianggap sebagai “urusan domestik”. Isu lingkungan hidup misalnya. Kebakaran hutan di Sumatera itu asapnya bisa kemana-mana hingga Thailand.

Begitu juga isu kemanusiaan. Ketika bencana alam melanda Lombok dan Palu beberapa waktu lalu, bantuan internasional cepat sekali mengalir.

Semakin banyak isu yang dulu pada tahun 1600-an dianggap isu domestik, sekarang telah menjadi isu bersama umat manusia. Tidak ada lagi batas negara yang rigid, manusia dibelahan bumi mana saja peduli dengan isu ini: kejahatan terorganisir, terorisme, kelaparan dan kemiskinan, dan lain-lain.

Dalam beberapa hari ini, sering terdengar kalimat-kalimat: “kita tidak peduli dengan kata asing, ini urusan domestik”. Diucapkan oleh banyak pihak. Ada pejabat, ada pengamat, dan ada penggembira.

Begitulah. Kalender Gregorian sudah 2019. Tapi cari berpikir kita masih 1600-an. Kita alami krisis berpikir, sebab akal sehat kita ketinggalan di abad ke-17.

0Shares