@pandi_ID yang kekurangan empati sosial

Rasanya tidak perlu lagi diinisialkan. Toh publik sudah sama ketahui, bahwa Vanessa Angel terciduk di Surabaya, sedang terlibat prostitusi online. Bayaran Rp. 80 juta inilah yang membuat prihatin.

Tidak sampai seminggu, Pengelola Nama Domain Indonesia (PANDI) membuat iklan di akun instagram-nya: “80 Juta dapat apa?”

Tentu saja, iklan dengan konten isu publik yang sedang trending bisa menjadi eye-catching. Masyarakat membacanya dengan rasa ketertarikan yang meningkat. Kasus prostitusi online yang melibatkan Vanessa Angel menyebabkan frasa “80 juta” menjadi kata kunci.

Menurut saya, pemilihan narasi dengan konotasi negatif adalah hal yang kurang bijak, kalau tidak mau kita sebut sebagai kehilangan empati. Kita seharusnya paham bahwa konteks kasus yang melibatkan Vanessa Angel bukanlah hal yang layak untuk dipelihara dalam memori publik. Sebab, itu bisa menyebabkan publik menerima realitas prostitusi online sebagai realitas yang biasa saja.

Sepengetahuan saya, PANDI memiliki elemen publik dalam dirinya. Sebagai badan yang memiliki kewenangan berdasarkan mandat pemerintah (melalui Keputusan Menkominfo), badan seharusnya tidak ikut-ikutan terjerembab dalam wilayah yang nir empati.(*)

0Shares