Sekarang Waktunya Kembali ke Singgasana

Dewasa ini, mungkin Hotel Singgasana di Jalan Kajaolalido, Makassar tidak lagi sefamiliar 15 atau 20-an tahun lalu. Hotel bintang 4 ini merupakan salah satu fasilitas akomodasi yang pernah populer di dekade 1980-an hingga 2000-an awal.

Pada masa itu, jumlah hotel di Makassar masih sangat jarang. Apalagi hotel bintang 4 yang dapat dianggap mewah.  Di tambah lokasinya yang strategis, hanya sekitar 100 meter dari Lapangan Karebosi yang dikenal sebagai alun-alun kota.

Sejarah hotel ini hampir lenyap. Sumber-sumber terbuka di internet juga tidak banyak (atau tidak ada?) yang mengulasnya. Saya kira, warga Makassar berusia 50-an tahun sajalah yang bisa bercerita tentang masa lalu hotel ini.

Ketika masih aktif berhubungan dengan lembaga-lembaga donor asing pada pertengahan hingga akhir dekade 2000-an, saya beberapa kali menggunakan fasilitas akomodasi dan pelatihan di Hotel Singgasana. Salah satu keunikannya adalah, pada menu sarapan pagi selalu tersaji kuliner khas dan tradisional Makassar.

Tapi hanya itu saja. Selebihnya, fasilitas, layanan, dan kemudahan akses, tidak jauh berbeda dengan hotel-hotel lain. Seiring pertumbuhan hotel di Makassar yang menggila pada awal dekade 2010-an, Hotel Singgasana perlahan-lahan mulai menghadapi kompetitor tangguh, yaitu hadirnya hotel-hotel baru. Ibarat daun muda, hotel-hotel baru ini lebih cerah, meriah, agresif dalam hal memasarkan diri, dengan beberapa fasilitas tambahan yang menjadi nilai plus, bahkan plus-plus.

Hotel Singgasana sebelumnya bernama Hotel Marannu Tower, yang merupakan bangunan tambahan dibelakang Hotel Marannu Golden.  Marannu sendiri adalah nama grup bisnis konglomerasi milik salah seorang tentara pejuang Angkatan 45, Brigjen TNI (purn). H. Andi Sose.

Pada masa itu, adalah lazim kita temukan banyak pensiunan perwira tinggi yang memasuki bisnis, dan berhasil. Ada nama-nama seperti Ibnu Sutowo yang keluarganya memiliki puluhan perusahaan, ada nama Brigjen TNI (purn) Sjarnoebi Said yang memiliki Krama Yudha Tiga Berlian, ada juga grup Batara Indra yang dikontrol oleh Letjen TNI (purn) L.B. Moerdani.

H. Andi Sose sendiri memiliki bisnis bervariasi, mulai dari perhotelan, perbankan, asuransi, property, dan perdangan. Pada dekade 1980-an dan 1990-an, berkembang kabar bahwa Andi Sose berniat meninggalkan dunia bisnis, dan terjun ke bidang sosial kemasyarakatan. Maka ia melepas kepemilikan pada berbagai usaha yang tersebar di seluruh Indonesia. Ia mempertahankan Rumah Sakit, universitas, dan sekolah.

Hotel Marannu Golden dan Marannu Tower sendiri akhirnya diambil alih oleh keluarga Andi Matalatta, juga seorang pejuang angkatan 45. Hotel Marannu Tower dikelola oleh Andi Ilhamsyah Matalatta. Dialah yang mengganti namanya menjadi Hotel Singgasana.

Jika kita berkunjung, apalagi menginap di Hotel Singgasana, maka “tua dan konservatif” adalah kesan pertama yang segera tertangkap. Tentu saja, ditengah pertumbuhan hotel di Makassar yang begitu semangat, akan sangat sulit bagi Singgasana untuk bersaing pada area pelayanan modern.

Hotel ini sebenarnya cocok mengembangkan visi “ke-masa-lalu-an” sebagai icon. Rasanya, tidak banyak hotel yang bisa mengkapitalisasi masa lalunya, semata-mata karena mereka tidak punya cukup masa lalu untuk dilestarikan.

Tetapi, Hotel Singgasana adalah kumpulan cerita yang menarik. Selain pernah menjadi icon kota, juga ia punya banyak sisi sejarah yang dapat ditawarkan.

Ketika hari ini, saya berkunjung ke Hotel Singgasana, di lobby depan terdapat aksesoris berbentuk 2 ekor Unta. Hal sama juga saya temukan di beberapa hotel lain pada suasana Ramadhan. Sayang sekali. Saya kira, area lobby itu akan lebih menarik jika dindingnya dihiasi foto-foto dan caption tentang sejarah dirinya.

Hotel Singgasana seharusnya menjual masa lalu. Sebab, jika mau ketemu Unta, pengunjung bisa ke hotel lain. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *