Pertemuan Yang Terlambat Tidak Selalu Buruk

Pertemuan Presiden Jokowi dan Presiden ke-6 SBY akhirnya digelar pada Kamis, 9 Maret 2017.  Sebenarnya, sudah sejak bulan lalu terdengar wacana pertemuan keduanya.  Pada masa-masa menjelang Pilgub DKI 15 Februari lalu, tegangan politik meningkat.  SBY ikut terseret dalam perbincangan politik akibat keterkaitan langsungnya dalam Pilgub DKI.  Bukan hanya itu, SBY bahkan harus merespon secara sporadis isu-isu miring yang diarahkan kepadanya.

Tuntutan pertemuan keduanya seharusnya sejak masa-masa menjelang Pilgub DKI itu.  SBY jelas sekali merupakan pendukung utama Agus-Silvy.  Sementara Jokowi secara samar-samar diduga memberikan dukungan kepada Ahok-Djarot.  Sehingga, banyak juga yang membaca Pilgub DKI putaran pertama sebagai arena pertarungan elit, dimana SBY berada pada satu sisi, dan Jokowi di sisi lain.

Menjelang Pilgub DKI putaran pertama, pertemuan keduanya diharapkan dapat membawa suasana sejuk.  Tetapi, secara politis pertemuan kala itu dinilai kurang strategis, terutama bagi SBY dan kandidatnya, AHY-Silvy.  Situasi tegangan tinggi jelang Pilgub adalah situasi yang diharapkan.  Dalam politik, para elit itu mengetahui dengan pasti bagaimana memanfaatkan psikologi publik.  Ada masa untuk panas, dan ada masa untuk adem.  Ada masa saling menyerang, ada masa silaturahmi.  Begitulah politik.  Yang abadi selalu saja kepentingan.

Pertemuan Yang Terlambat?

Bagaimanapun, Pilgub DKI putaran pertama telah selesai, hasilnya sudah nyata.  Sekarang masing-masing pihak telah mengetahui sikap politik seperti apa yang harusnya mereka persiapkan meghadapi momentum selanjutnya.  Dinamika ini tidak akan berhenti disini, bahkan memang seolah tidak perah berhenti.  Usai putaran pertama Pilgub DKI, ada putaran kedua yang menunggu.  Dan tidak lama setelah itu, Pemilu 2019 akan menjelang.

Dalam perspektif kontestasi Pilgub DKI, pertemuan Jokowi-SBY jelas terlambat.  Apalagi, posisi SBY dan partai yang dipimpin sekarang ini menjadi seksi.  Dengan 17,02% atau hampir sejuta suara, suara AHY-Silvy akan dapat mengubah peta politik putaran kedua.  Tentu saja, suara ini tidak mungkin ditransfer secara utuh kepada salah satu kandidat.  Akan tetapi, sikap SBY dan partainya akan mempengaruhi pilihan publik.  SBY seharusnya memposisikan diri sebagai pihak yang “didatangi”, bukannya pihak yang “mendatangi”.

Meskipun demikian, bagi politisi sehandal SBY, tidak ada kata terlambat dalam politik.  Ini dengan asumsi bahwa pertemuannya dengan Jokowi adalah pertemuan politik.  Paling minimal, pertemuan ini merupakan bentuk komunikasi kepada publik yang mengatakan bahwa “kami baik-baik saja”.  Elit yang rukun dapat dipastikan akan berdampak pada stabilitas sosial politik, yang membawa ketengan bagi masyarakat.

Menciptakan dan Memanfaatkan Momentum

Dalam jangka pendek, publik Jakarta (bahkan sebenarnya publik Indonesia) sedang menanti Pilgub DKI putaran kedua.  Pertarungan politik sedang terfokus pada gerakan-gerakan Anis-Sandi dan Ahok-Djarot.  Sesuai komitmennya, Ahok-Djarot tidak memaksimalkan mesin birokrasi untuk meningkatkan dukungan politiknya.  Setelah cuti kampanye usai dan ia kembali menjabat Gubernur DKI, Ahok masih saja kembali marah-marah, tetap tidak memberi ruang kompromi bagi masyarakat yang dinilai melanggar aturan.

Sementara Anis-Sandi sibuk di luar sana membangun komunikasi politik, dan menjadi terkesan sangat pragmatis.  Terakhir, Anis dan Sandi membangun komunikasi intensif dengan taipan media, Harry Tanoe.  Sebagian publik sekarang mempertanyakan komitmen ideologi kedua kandidat ini.

SBY nampaknya sangat hati-hati dalam situasi ini.  Pertemuan dengan Jokowi, menurut saya, adalah langkah menciptakan momentum.  Dalam politik, momentum kadang-kadag harus diciptakan.  Kita belum tahu, akan kemana arah dukungan politik klik SBY dan Partai Demokrat.  Dukungan klik ini dapat membawa pengaruh “bandwagon effect” yang signifikan.

Dalam waktu dekat, SBY tinggal memanfaatkan momentum yang baru saja dia ciptakan.  Peluang dukungan SBY kepada Anis-Sandi kini besarnya dengan peluang dukungan terhadap Ahok-Djarot.  Paling minimal, SBY akan menyatakan sikap tidak memihak dan menyerahkan pilihan politik pendukungnya di putaran kedua Pilgub DKI nanti “sesuai hati nurani masing-masing”.

Memilih sesuatu hati nurani, adalah langkah yang belum lazim di lansekap politik Indonesia.  Tetapi, ini perlu dibiasakan… (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *