Namanya Yuri Fujikawa.  Ia lahir pada tanggal 8 Maret 1980.  Mungkin hanya kebetulan, tetapi sejak tahun 1975 tanggal ini ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa sebagai Hari Perempuan Internasional (International Women Day).

Ayahnya adalah seorang wakil dewan kota.  Yuri membantu kampanye ayahnya dalam pemilihan umum.  Tetapi ayahnya kalah.  Inilah yang memicu keinginan Yuri untuk terjun ke dunia politik.  Pada awalnya, kedua orang tua Yuri menolak anaknya terjun ke politik.  Namun, setelah memohon bahkan melakukan zairei (berlutut dan memohon dalam tradisi Jepang).

Begitu memasuki dunia politik dan terpilih sebagai anggota dewan kota, Yuri kemudian lebih dikenal karena sosoknya yang cantik ketimbang aktivitas politiknya.

Pada bulan April 2009, Yuri menempati posisi teratas sebagai “Politisi Wanita Paling Cantik” menurut Majalah 20Minutos di Spanyol. Hal ini menjadi pembicaraan dalam negeri Jepang. Publik menilai, ia telah mencapai popularitas global. Namun juga disayangkan karena popularitas itu berkaitan dengan kecantikan, bukan karena aktivitas politiknya.

Tantangan Politisi Wanita

Kondisi fisikal memang menjadi tantangan tersendiri bagi wanita yang berkiprah di ranah publik. Di satu sisi, ada anggapan umum bahwa seorang pejabat publik seharusnya memiliki kemampuan dan kompetensi sesuai bidangnya. Sementara atribut-atribut fisikal (misalnya tampan, charming, atau cantik dan menawan) adalah bonus semata-mata.

Tetapi, publik (khususnya media massa), lebih senang mengeksplorasi aspek-aspek fisikal ini. Kita lihat, bagaimana Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, menjadi sangat populer karena charming. Ia selalu diberitakan karena hal ini, respon dan reaksi tokoh-tokoh dunia terhadap ketampanannya. Hanya sedikit debat publik tentang kebijakan politiknya.

Tentu saja ini tidak sepenuhnya salah. Bukan hal buruk memiliki pejabat publik yang keren dan rupawan. Akan tetapi, ada titik rentan pada aspek fisikal ini. Dalam banyak kasus, penampilan dan bentuk fisik demikian dianggap rentan terhadap gosip bahkan skandal.

Yuri pernah mendapatkan kritikan keras karena penampilannya dalam video promosi pariwisata Kota Hachinohe. Ia menggunakan bikini yang terlalu minim, sehingga ia dikritik sebagai “terlalu cantik untuk menjadi politisi”.

Pada kesempatan lain, ia menjadi bahan pemberitaan karena tertangkap kamera pada suatu pagi.  Saat itu, ia baru saja keluar dari hotel bersama seorang politisi muda yang telah memiliki istri dan anak. Ketimpangan media begitu terasa, ketika dirinya yang wanitalah yang menjadi fokus, dan bukannya si politisi yang telah berkeluarga yang bersamanya itu.

Ketika berbicara tentang standar etik dalam ranah publik, figur wanita selalu saja menghadapi sorotan lebih. Dan itu kurang adil.(*)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com