Taliban, Melihat Sisi Lain dari Petingginya

Tanggal 27 Juni 2012, Graduate School of Global Studies, Doshisha University menggelar perhelatan besar: International Conference on Afghanistan Reconciliation and Peace Building. Untuk pertama kalinya, petinggi  Taliban hadir dalam pertemuan non negosiasi  di luar negeri.

Wakil dari Taliban yang hadir dalam pertemuan ini adalah Shaikh Iadena Mohammad.  Beliau adalah anggota Political Council of Islamic Emirate of Afghanistan.  Ini adalah nama yang digunakan sekarang setelah mereka digusur paksa oleh pasukan Amerika pada tahun 2001.  Shaikh Iadena adalah seorang pria berwajah teduh, dengan sorban putih dan janggut panjang.

Saya beruntung memperoleh kesempatan untuk bertemu langsung dan berbincang (dengan bantuan seorang penerjemah).  Sebagaimana dalam presentasinya, beliau kembali menegaskan komitmen Taliban terhadap pasukan Amerika di Afghanistan.  Taliban siap membangun perdamaian abadi, hanya dan jika hanya diawali dengan penarikan mundur pasukan Amerika dari Afghanistan.

Menurut Shaikh Omar, Taliban sebenarnya membangun komunikasi dan negosiasi rahasia dengan Amerika pada beberapa pertemuan di Qatar. Namun, pada bulan Maret 2012, Taliban menarik diri dari proses negosiasi, karena Amerika menolak menerima syarat yang diajukan Taliban, yaitu pembebasan tawanan politik di penjara-penjara yang dikendalikan pasukan Amerika.

“Bagi kami, Amerika adalah penjajah.  Mereka menyerbu negara kami dengan cara tidak manusiawi.  Semua pihak mengkonfirmasi 120 ribu rakyat sipil Afghanistan menjadi korban kekejaman pasukan Amerika. Dan kami tidak bisa mentoleransi hal itu”, kata Shaikh Iadena.

Konferensi ini juga dihadari oleh Advisor to the President on Internal Security of Islamic Republic of Aghanistan, Dr. Masoom Stanekzai. Beliau diutus khusus oleh Presiden Hamid Karzai untuk menghadiri pertemuan ini.

Selama pertemuan, nampak jelas perbedaan visi pemerintah dan Taliban tentang kehadiran pasukan Amerika.  Meskipun ada timeline yang telah dirancang untuk penarikan mundur pasukan Amerika pada 2014, namun kelompok Taliban tidak percaya sepenuhnya.  “Amerika adalah super power, semua mengakui hal itu. Kami juga mengakui hal itu. Kami membutuhkan bantuan Amerika dan komunitas internasional untuk masa depan Afghanistan yang lebih baik. Tetapi, kami tidak akan berkompromi dengan hadirnya pasukan Amerika di tanah Afghanistan”, tegas Shaikh Iadena.

Ketika Dr. Masoom Stanekzai menegaskan bahwa Amerika memiliki pangkalan militer di lebih 100 titik di seluruh dunia. Ada pasukan Amerika di Arab Saudi, di Qatar, bahkan di Jepang, tetapi negara-negara itu tidak mempersoalkan hal tersebut.  Sehingga, ia merasa tidak logis jika Taliban mempersoalkan kehadiran pasukan Amerika di Afhanistan.

Dengan sangat diplomatis, seorang tokoh Mujahiddin dari faksi Hezb-i Islami yang turut hadir sebagai nara sumber, Dr. Ghairat Baheer, mengungkapkan “Ya, tetapi di negara-negara tersebut, pasukan Amerika tidak membunuh ratusan ribu rakyat sipil”.  Hezb-i Islami maupun Taliban memiliki visi yang sama tentang penarikan pasukan Amerika dari Afghanistan.

Asahi Shimbun, salah satu koran terkemuka di Jepang yang mengadakan wawancara khusus dengan Shaikh Iadena disela-sela rehat pertemuan ini, menuliskan dalam laporannya (di link ini) bahwa kehadiran tokoh penting Taliban dalam forum internasional seperti ini adalah hal yang baru pertama kali terjadi.  Ini menunjukkan gejala perubahan orientasi gerakan Taliban, yang mulai membangun kampanye global.

Di akhir pertemuan, saya berkesempatan untuk berfoto bersama Shaikh Iadena Mohammad.  Sesaat sebelum foto, pengawal beliau mendatangi saya dan berbisik: “Mohon foto ini jangan disebarluaskan.  Beliau hingga kini masih tercatat sebagai salah satu tokoh yang paling dicari oleh Amerika Serikat”. Saya memastikan bahwa ini hanya untuk koleksi pribadi. Dalam hati, saya berkata “wow…!”***

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.