Paradoks Komunikasi Donald Trump

Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45, Donald John Trump, meninggalkan Gedung Putih. Lelaki kelahiran New York pada 74 tahun silam ini akhirnya mengakui kekalahan pada Pemilu Presiden yang berlangsung dramatis. Pelantikan Presiden AS ke-46 terpilih, Joseph Robinette Biden Jr. (Joe Biden) berlangsung pada Rabu (20/1/2021) waktu Washington.

Paska pemungutan suara pada 3/11/2020, Trump berusaha keras membalik hasil Pemilu. Ia menempuh berbagai langkah, konstitusional hingga kontra demokrasi.  Puncaknya, pada 6/1/2021, ditengah frustrasi setelah berbagai upaya tidak berhasil, ribuan pendukung Trump mencoreng wajah demokrasi Amerika: menduduki Gedung Capitol sebagai upaya terakhir menggagalkan pengukuhan hasil Pilpres oleh Kongress.

Seluruh dunia tersentak. Demokrasi pengerahan massa yang memaksakan kehendak adalah praktek lazim pada negara demokrasi palsu. Atau mungkin pada negara-negara yang sedang dalam transisi.  Penyerangan Gedung Capitol mengindikasikan bahwa ada penyakit dalam tubuh demokrasi. Masyarakat dan sistem politik yang mapan sekalipun dapat terpapar. Penyakit ini disebut “tirani mayoritas”.

Sejak dilantik sebagai Presiden AS ke-45, Donald J. Trump hadir dengan gaya baru. Ia membawa perubahan pada kebijakan politik domestik dan internasional. Ia juga mendobrak pakem-pakem komunikasi publik yang selalu melekat pada sosok politisi, yaitu pencitraan dan “mencari-cari muka” ke media massa.

Politisi di seluruh dunia berusaha menjadi “media darling”, berakrab-akrab dengan wartawan dan media massa. Dalam bidang kehumasan, “media relations” merupakan pilar penting keberhasilan komunikasi publik. Akan tetapi, Trump mendobrak pakem itu. Sepanjang masa jabatannya, Trump berkali-kali dan agresif menyerang balik jurnalis yang mengkritiknya. Bahkan juga ia menyerang perusahaan media.

Ia bertengkar dengan wartawan CNN, Jim Acosta (7/11/2018) pada jumpa pers di Gedung Putih. Trump berkata “CNN seharusnya malu pada diri mereka sendiri, karena Anda bekerja untuk mereka”.

Trump bertengkar dengan wartawan CBS News, Wejia Jiang (12/5/2020). Ketika jumpa pers mendampingi Presiden Finlandia yang menjadi tamunya, Trump juga bertengkar dengan wartawan Reuters, Jeff Mason (3/10/2019).

Gaya komunikasi publik Trump adalah salah satu yang paling menyorot perhatian. Bahkan, sebagian analis menyebutkan bahwa penyerangan Gedung Capitol dipicu oleh pernyataan-pernyataan Trump yang provokatif melalui media sosial.

Sebagai pejabat publik, Trump sangat aktif memanfaatkan media sosial Twitter untuk menyampaikan pemikiran dan sikapnya. Ia ceplas-ceplos. Selain menyatakan hal-hal kontroversial (menurut standar umum sebagai seorang kepala negara), Trump tidak jarang menyerang pribadi orang lain. Trump terlibat perseteruan dengan Twitter, setelah media sosial ini menandai kicauan Trump mengandung informasi sesat.

Puncaknya, pada 8/1/2021, usai pendudukan Gedung Capitol, Twitter menutup akun pribadi Donal J. Trump, @realDonaldTrump, secara permanen. Apa tanggapan Trump? “Saya akan membuat platform media sosial sendiri,” katanya santai.

Begitulah Trump. Ia tampil apa adanya, tanpa pencitraan dibuat-buat. Bibit anti pencitraan ini nampaknya ada dalam dirinya. Jauh sebelum masuk ke politik, pada 1990, Trump meraih Piala Razzie untuk perannya dalam film “Ghosts Can’t Do It”. Ia meraih predikat: “pemeran pembantu terburuk”.

Trump benar-benar tidak memiliki bakat untuk pencitraan. Meski begitu, ia hampir saja menang Pemilu 2020.(*/)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *