Kamp Pengasingan Tahan Politik di Moncongloe

Hari ini saya iseng-iseng mencari bacaan gratis di Google Play Book. Untuk mengisi hari libur. Tanpa sengaja, saya ketemu terbitan mahasiswa UKM Pers Kampus, Catatan Kaki, edisi Januari 2018.

Judul edisi ini adalah “Terang yang tak kunjung terbit”, membahas tentang para tahanan politik eks PKI di Makassar dan Sulawesi Selatan.

Saya baru tahu, kalau ternyata di daerah Moncongloe (yang hanya beberapa kilometer dari Kampus Unhas) dulu ada Kamp Pengasingan, tempat para tahanan politik diasingkan.

Kisah di Catatan Kaki cukup menarik. Sayangnya, penggarapannya kurang dalam. Padahal, adik-adik yang menggarap edisi ini masih bertemu dengan pelaku sejarah, yaitu para korban.

Catatan Kaki terbitan UKM Pers Unhas, 2018.

Artikel-artikel di edisi ini membahas dari perspektif satu pihak saja, yaitu dari para korban. Mungkin akan lebih menarik jika ada suara dari militer yang disajikan. Sehingga masyarakat awam seperti saya bisa memiliki pengetahuan baru.

Saya googling tentang kamp pengasingan¬† ini. Ketemulah buku berjudul “Kamp Pengasingan Moncongloe”, ditulis oleh Taufik (terbitan Desantara Foundation, 2009).

Buku ini juga diresensi pada Catatan Kaki edisi Januari 2018 tersebut. Menariknya, buku ini diulas juga pada website Kemdikbud RI pada 2014, dapat dibaca disini: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsulsel/kamp-pengasingan-moncongloe/

Saya juga menemukan ulasan di IDN Times yang ditulis oleh  Achmad Hidayat Alsair pada 30 September 2019. Link-nya ada disini: https://sulsel.idntimes.com/news/sulsel/ahmad-hidayat-alsair/kamp-moncongloe-saksi-bisu-penderitaan-tapol-orde-baru-di-sulsel

Ternyata Kommas HAM pernah menyelidiki peristiwa tahan politik di Moncongloe. Pada 2012, Komnas HAM menyebutkan terjadi pelanggaran HAM. Para tahanan politik mengalami eksploitasi, kekerasan, bahkan stigma. Tetapi tidak jelas bagaimana penyelesainnya.

Denah Kamp Pengasingan Moncongloe, hasil reka ulang dari keterangan saksi-saksi.

Sayang sekali, Kamp Pengungsian Moncongloe kini nyaris lenyap. Dari penelusuran tim Catatan Kaki, yang tinggal hanya masjid, gereja, dan pos yandu (yang konon dahulunya merupakan pos keamanan).

Harusnya kawasan ini dilestarikan, untuk menjadi pengingat dan pembelajaran bagi generasi mendatang. Kita perlu belajar dari sejarah, agar tidak melakukan kesalahan yang sama.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *