Kedatangan Petugas Kesehatan Ber-APD Lengkap

Anak saya tiba di Makassar pada Senin, 13 April 2020 tengah malam. Perpulangannya bersama para santri Pesantren Modern Darussalam Gontor (PMDG) berlangsung dengan protokol kesehatan yang ketat. Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor dan Satgas Covid-19 menangani proses ini di Bandara Hasanuddin.

Sebagai orang yang paham situasi dan protap pencegahan Covid-19, saya berinisiatif melaporkan kedatangan anak saya ke Puskesmas terdekat. Hari Selasa, 14 April pagi, saya datang membawa dokumen-dokumen pemeriksaan kesehatan dari daerah asal. Saya juga ceritakan prosedur yang telah dilewati sejak dari Ponorogo hingga tiba di Makassar.

Petugas yang menerima tampak senang. Ia mendata dan memberikan petunjuk (yang sebagian besar sudah saya pahami). Di rumah, anak saya telah mulai isolasi mandiri. Proses ini akan berlangsung selama 14 hari.

Setiap hari, saya mengukur sendiri suhu tubuh anak saya, dan mencatatnya pada selembar kertas. Angka termometer selalu berkisar pada 36.2° hingga 36.8° Celcius.

Pada hari kesembilan, angka termometer tiba-tiba melonjak, 37.5°C. Tentu saja saya kaget. Hari itu, suhu saya ukur setiap 4 jam, sebanyak 3 kali. Angka termometer di atas 37°C.

Selama tiga hari, suhu tubuh anak saya di atas 37°C. Kadang 37.3° paling rendah 37.1°. Saya pikir, ini ada yang salah. Badan anak saya tidak terasa hangat kalau dirasa dengan tangan. Maka, saya teringat pada istilah “second opinion”. Segera saya membeli termometer baru. Sekaligus dua, digital dan manual.

Ternyata, termometer yang selama ini digunakan tidak berfungsi normal. Suhu tubuh anak saya menurut termometer baru (digital dan manual) ada diangka 36.7°C. Sementara pemgukuran dengan termometer pertama tadi angkanya 37.3°C.

Lega rasanya. Apalagi anak saya tidak ada gejala batuk, pilek, atau sesak napas. Hingga hari ke-14, suhu tubuh anak saya dibawah 36.8°C.

Petugas Kesehatan

Selasa, 28 April, sekitar pukul 09.30 pagi, istri saya terkejut. Di depan rumah, lima petugas Puskesmas datang, tiga diantaranya memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Itu pakaian yang mirip astronot. Warga sekitar heboh.

Saya keluar menemui mereka. Seorang diantaranya mengatakan hendak memeriksa kesehatan anak saya yang tiba dari Ponorogo 14 hari lalu.

Meskipun saya paham prosedur, tapi baru kali ini saya merasakan langsung dampak psikologis didatangi tenaga kesehatan ber-APD lengkap. Tiba-tiba timbul perasaan tidak enak, merasa jadi suspek di mata warga yang melihat dari jauh. Apalagi, mereka datang menggunakan mobil ambulans.

Sambil memanggil anak saya dari kamarnya, saya sempat bilang ke petugas itu: “kenapa mesti pakai APD lengkap begini, Bu?”

“Ini prosedurnya, pak. Kami harus memeriksa setelah 14 hari,” kata seorang petugas.

“Ya, saya paham. Tapi itu kan warga jadi heboh. Kenapa tidak telepon saja saya, supaya anak saya ke puskesmas,” kata saya kurang enak.

“Kami harus memeriksa semua anggota keluarga, pak,” jelasnya.

“Lha, kan saya bisa membawa semua anggota keluarga ke Puskesmas,” tepis saya, tapi tidak berniat lagi melanjutkan debat. Nanti malah dikira melawan petugas. Bisa bikin heboh.

Petugas Puskesmas ini kemudian memeriksa suhu tubuh semua orang di rumah. Benar-benar hanya periksa suhu tubuh saja. Sambil bertanya apakah ada yang flu, batuk-batuk, dan sesak napas. Hanya itu saja.

Sementara di luar sana, warga makin banyak yang melihat dari jauh. Saya berpikir cepat. Sosok petugas kesehatan ber-APD lengkap seperti ini pasti menimbulkan kesan kurang baik. Seolah-olah orang yang dikunjungi itu bersalah.

Maka, untuk mencairkan suasana, cepat-cepat saya meminta istri untuk foto-foto. Kita ingin tunjukkan kesan senang dikunjungi, tidak ada yang perlu ditakuti, pemeriksaan seperti ini hal biasa.

Untungnya, para petugas ini cukup paham. Salah seorang juga menyodorkan HP-nya dan minta foto bareng.

Ketika akan meninggalkan rumah kami, mereka malah sempat dadah dadah kepada kami dan warga yang ada di sekitar. Beberapa lama setelah kepergian mereka, sebagian warga masih berkerumun dan mengajak saya ngobrol.

Begitulah drama kedatangan petugas medis ber-APD lengkap. Saya merasa, ada transformasi ketakutan yang tersebar bersama pakaian itu.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *