Ketika Pesantren Darussalam Gontor Lock Down

Santri Gontor

Ketika wabah Covid-19 akhirnya masuk ke Indonesia, saya intensif memantau perkembangan Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor (PPMDG) di Mlarak, Pronorogo. Pesantren ini biasa disebut Gontor Pusat atau Gontor Satu. Di sini Kantor Pusat PPMDG berada. Anak sulung saya, Zaidaan, adalah santri kelas satu.

Pada minggu-minggu pertama di bulan Maret, penambahan kasus relatif lambat. Penyebabnya, kemampuan melakukan pengujian yang masih sangat terbatas. Hanya dalam waktu dua minggu setelah kasus pertama terkonfirmasi, jumlah pasien positif Covid-19 mencatat angka 117 pada 15 Maret 2020.

Di berbagai media, kabar Covid-19 menjadi trending topik. Setiap waktu, berita-berita kasus baru, pencegahan, penanganan, dan debat sana-sini menjadi bahan berita.

Sementara di Gontor, tanggal 15 Maret ini beredar surat dari pimpinan PPMDG bahwa area pesantren dinyatakan sebagai kawasan tertutup dari interaksi dengan pihak luar. Siapa saja dilarang masuk ke kawasan Pesantren Gontor, termasuk orang tua. Bahkan, paket-paket kiriman yang datang dihentikan.

Ada bangunan di Gontor I bernama Gedung Satelit. Ini adalah Balai Penerimaan Tamu atau Bapenta. Gedung empat lantai menjadi tempat menginap ratusan hingga ribuan orang tua santri yang datang mengunjungi anak-anaknya.

Pembatasan Sosial ala Gontor

Tanggal 16 Maret, beredar pengumuman bahwa dalam 1 x 24 jam, Gedung Satelit harus dikosongkan. Para orang tua santri diminta untuk segera meninggalkan Gedung Satelit, tidak mengadakan kontak fisik dengan santri dan guru-guru serta pengasuh, dan tidak berada di area Pesantren Gontor sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Pengumuman Pengasuh Santri di Gontor Pusat.

Keliatannya, para kyai, pimpinan PPMDG, dan para pengasuh paham betul makna wabah, sebagaimana yang umum dibahasakan pada berbagai kajian islami: “jika ada wilayah terkena wabah, jangan masuk ke wilayah itu. Jika berada di situ, jangan keluar”. Gontor berlakukan lock down!

Meskipun cukup was-was, namun saya sebagai orang tua merasa lebih tenang. Karena sering terlibat dalam pembahasan terkait Covid-19 sejak awal wabah, saya memiliki cukup pemahaman dasar tentang bagaimana menghindari terpapar dan memaparkan virus ini. Kuncinya adalah membatasi interaksi dan sentuhan dengan pihak lain.

Dengan asumsi bahwa seluruh santri (jumlahnya ada ribuan) di Pondok Pesantren Gontor Pusat masih bebas dari virus, maka langkah memutuskan interaksi dengan pihak luar adalah upaya preventif yang tepat. Apalagi, melalui informasi di media sosial dan grup-grup WA pondok, terasa benar bagaimana kepedulian para pengasuh dan guru-guru dan terhadap kesehatan dan keselamatan para santri.

Anak-anak sedang memasuki persiapan ujian akhir tahun. Ini adalah ujian yang menentukan, untuk mengetahui hasil belajar selama selama satu tahun.  Usai ujian, para santri akan “libur”. Santri kelas 1 hingga 4, akan pulang ke tempat asal selama kurang lebih 50 hari. Itu adalah jadwal pada situasi normal.

Perpulangan ke Tempat Asal

Menurut rencana, perpulangan santri asal Makassar (termasuk Zaidaan) akan berlangsung pada tanggal 13 April. Meskipun demikian, masih ada beberapa hal yang perlu diperhitungkan oleh pengasuh dan guru-guru. Keputusan akhir akan diambil oleh Kyai, pimpinan PPMDG, untuk memutuskan apakah perpulangan para santri akan berlangsung sesuai jadwal, ditunda, atau dibatalkan.

Di berbagai tempat, kasus-kasus terkonfirmasi terus meningkat. Selain itu, pemerintah nampaknya kelabakan mengambil kebijakan pembatasan sosial, akibat respon masyarakat yang nampaknya belum sepenuhnya memahami bagaimana mengatasi sebaran wabah. Di Makassar, situasi mengkhawatirkan terasa dimana-mana.

Sebagai orang tua, saya merasa anak saya lebih aman dan terlindungi jika berada di dalam wilayah pondok yang telah memutuskan interaksi dengan dunia luar. Rasanya, akan lebih aman jika Zaidaan tetap tinggal di pondok saja selama masa pandemi. Akan tetapi, saya paham bahwa keputusan itu tentu sulit, terutama bagi Zaidaan sendiri. Ia dan anak-anak santri lain telah lama mengidamkan dapat pulang sejenak, lepas dari rutinitas pondok yang nyaris tanpa waktu senggang.

Hingga akhirnya, keputusan dari Kyai datang. Perpulangan para santri tetap berlangsung sesuai jadwal, namun dengan protokol yang lebih ketat.  Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor di Makassar, yang akan mengkoordinir perpulangan ini, juga tidak kalah sigap. Segera para pengurus berkoordinasi dengan Gugus Tugas Covid-19 Sulsel.

Maka, pada pukul 00.30 tanggal 14 April, Zaidaan tiba di Makassar. Karena saya paham prosedur pencegahan Covid-19 dengan baik, Zaidaan otomatis berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP). Ia harus menjalani isolasi mandiri di rumah selama 14 hari ke depan.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *