Covid-19 dan Social Distancing, Apakah Efektif?

Hari ini (Senin, 16/3) sebaran wabah Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Setelah pada Sabtu dilaporkan ada 117 kasus, kini telah meningkat menjadi 135 kasus. Peningkatan kasus ini mendorong berbagai pihak mengambil langkah aktif untuk menghentikan laju penyebaran.

Salah satu ide yang mengemuka adalah Social Distancing. Bentuk paling ekstrim dari metode ini adalah dengan cara lockdown, namun opsi ini belum ada dalam daftar.

Dari berbagai sumber, social distancing adalah mekanisme untuk menghentikan sebaran virus dengan cara mengurangi sebisa mungkin sentuhan dan interaksi sosial. Asumsinya adalah penyebar virus ini adalah orang yang terpapar, sementara publik tidak dapat mengidentifikasi siapa saja yang telah terpapar saat ini.

Keberadaan virus ini pada diri seseorang terdeteksi setelah melalui beberapa test. Selain itu, seseorang yang membawa virus (carrier) tidak serta merta menunjukkan gejala sakit. Ada yang sampai dua minggu baru tampak gejalanya.

Untuk itu, publik berada dalam kegelapan. Bisa saja seseorang yang ada di sekitar kita adalah carrier. Maka, tidak ada cara lain kecuali mengurangi aktivitas sosial, hingga masa waktu tertentu. Pemerintah dan berbagai institusi publik memilih rentang waktu 14 hari.

Seorang teman dokter menjelaskan bahwa pilihan 14 hari itu cukup tepat. Ia mengatakan bahwa jika dalam masa 14 hari tidak ada yang terpapar dari komunitas atau kelompok sosial, maka dapat dipastikan virus itu belum ada pada kelompok sosial itu.

Langkah selanjutnya adalah terus membatasi kelompok sosial itu dalam berinteraksi dengan kelompok sosial di luar, terutama untuk kelompok sosial belum melalui fase social distancing.

Jadi, social distancing itu bukan untuk menyembuhkan, tetapi untuk menghentikan sebaran virus. Cara ini efektif diberlakukan di China yang memilih metode paling ekstrim dari social distancing, yaitu dengan cara lockdown.

Seorang teman yang saya kenal dari sosial media adalah survivor dari Wuhan. Ia adalah salah seorang warga Indonesia yang dievakuasi dan sempat menjalani karantina di Natuna. Sebagaimana kita ketahui, semua orang yang dikarantina itu dinyatakan bebas dari Covid-19.

Ia menceritakan pengalaman selama berada pada situasi lockdown di Wuhan, China. Peran pemerintah sangat signifikan. Masyarakat disuplai bahan makanan tiga kali sehari, diberi masker gratis, didukung dengan perlengkapan sanitasi untuk sterilisasi sederhana.

Teman mengatakan bahwa metode lockdown akan sulit efektif di Indonesia secara menyeluruh. Namun demikian, jika dilakukan pada skala kecil, misalnya kawasan atau kota, kemungkinan bisa. Namun dibutuhkan kepatuhan warga yang luar biasa.

Di Indonesia, beberapa hari terakhir marak instruksi untuk melakukan social distancing. Berbagai pemerintah daerah dan instansi pemerintah mengeluarkan edaran, mengubah praktek rutin, membatasi perjalanan kunjungan, mengurangi tamu, belajar di sekolah dan kampus berhenti sementara, dan sebagainya.

Juga pemerintah menghimbau agar warga tidak keluar rumah atau melakukan aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak.
Tetapi himbauan ini nampaknya tidak didengar. Jalan-jalan raya tetap saja ramai, jalanan tetap saja macet. Penumpang publik di transport di Jakarta bahkan antri panjang, akibat kebijakan pemerintah DKI yang mengurangi frekuensi perjalanan bis.

Melihat realitas ini, kekhawatiran teman ini nampaknya beralasan. Indonesia mengalami krisis kepatuhan pada otoritas resmi. Dan ini cukup parah. Puluhan himbauan dianggap angin lalu.(*/ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *