Tentang Hashtag dan Emosi Publik

Menyusul kabar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (BKS) positif Covid-19, hashtag baru memenuhi jagad Twitter. Adalah Muhammad Said Didu yang menginisiasi, #Indonesiabutuhpemimpin.

Tidak sampai sejam, hashtag ini menempati posisi atas trending topic Indonesia. Bisa jadi, dalam beberapa waktu mendatang ia akan menembus trending dunia. Terasa benar luapan perasaan publik melalui hashtag ini.

Beberapa negara mengambil langkah ekstrim dalam mencegah Covid-19. Setelah Tiongkok yang menutup (lockdown) Kota Wuhan, lamgkah sama diambil negara lain. Kabar terbaru, Italia bahkan menutup negaranya!

Sementara itu, Indonesia melalui Kepala Negara dan Menteri Kesehatan masih terlihat santai, cengengesan, dan terus saja bercanda. Sementara warga diliputi suasana cemas, pemimpin yang diharapkan mengambil peran justru “salah gaya” dalam memberi keyakinan dan ketenangan kepada warga.

Mungkin pemimpin kita berpikir, tampil tenang akan menenangkan warga. Mereka lupa, bahwa rakyat memiliki banyak referensi tentang situasi sebenarnya. Di sisi lain, warga tidak sepenuhnya percaya kepada pemimpin. Maka, sikap memandang remeh wabah hanya menambah ketidakpercayaan saja.

Pada saat yang sama, Gubernur DKI Jakarta mengambil kebijakan yang melampaui kapasitasnya: sesuatu yang sebenarnya diharapkan publik untuk dilakukan oleh Presiden.

Hashtag #IndonesiabutuhPemimpin sepertinya mengkonfirmasi dugaan sumir, bahwa ada yang keliru dalam tata kelola pemerintahan, khususnya dalam hal terkait respon wabah Covid-19.

Saya pribadi merasa memang ada yang aneh, ketika Badan Intelijen Negara juga mengeluarkan pernyataan terkait Covid-19. Maka, makin ramailah panggung oleh artis figuran. Mungkin akibat pemeran utama tidak kunjung tampil. Mungkin juga akibat ia tampil buruk, jauh dari ekspektasi.

Begitulah cara publik mengungkapkan emosi. Mereka tidak punya kuasa, selain hashtag dan kuota internet.(*/ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *