Ketika Negara Abai, Apakah Rakyat Hanya Mampu Mengeluh?

Di tengah wabah Covid-19, banyak terdengar keluhan warga. Terutama ditujukan ke negara yang dianggap lambat, tidak transparan, tidak memadai, dan tidak sinergis merespon wabah.

Sebelum ini, sudah sering kita mendengar warga yang mengeluh, bisa terkait apa saja. Saya merasa ada suasana ketidakberdayaan individu di sana. Seolah hanya pemerintah saja yang bisa atasi masalah.

Padahal, sebagai individu otonom, warga negara yang aktif bisa berperan lebih banyak dari sekedar mengeluh. Kita bertindak nyata, tanpa perlu habiskan energi dengan sibuk mencari kesalahan pemerintah.

Bersikap Otonom

Pernah sekali waktu, sekolah anak saya merencanakan kunjungan ke pabrik roti. Perjalanan ke sana menggunakan angkot, sekaligus perkenalkan transportasi publik untuk anak kelas dua SD.

Jumlah murid 30-an, jumlah guru yang ikut 2 orang. Saya pikir, itu rasio yang tidak memadai. Kita tahu, angkot itu tidak punya standar keamanan apapun.

Saya usul agar orang tua yang sempat boleh mendampingi. Pihak sekolah menolak, mereka ingin anak-anak terbiasa mandiri.

Jadinya, kita beda persepsi antara mana yang harus didahulukan: kemandirian atau keselamatan anak?

Sebagai orang tua, jika dihadapkan pada kedua pilihan itu, saya akan memilih keselamatan. Akan tetapi, sekolah tetap pada keputusannya: (1) anak-anak wajib ikut, (2) orang tua tidak boleh mendampingi, dan (3) memakai angkot.

Ada kata-kata “wajib ikut”. Maknanya, jika tidak ikut akan ada konsekuensi. Saya tidak perlu bertanya apa konsekuensinya. Dalam relasi seperti ini, jelas sekali siapa yang memiliki kuasa. Sekolah bisa memberlakukan persyaratan apa saja.

Namun, sebagai warga merdeka, saya tidak mau merasa berada di bawah kekangan yang tersistem seperti ini. Kepada istri, saya sampaikan: “Bayar saja biaya kontribusi, tapi anak-anak tidak usah diikutkan”.

Istri saya paham itu instruksi. Kebetulan juga dia sepakat. Jadi dia katakan kepada sekolah, anak-anak kami, si kembar, tidak akan ikut. Jika mereka akan diberi nilai rendah dalam pelajaran entah apa, bahkan sampai tidak naik kelas, silahkan saja.

Setiap ada potensi ancaman terhadap keselamatan anak, saya akan bertindak. Saya hindari mengeluh. Itu membawa dampak buruk, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Itulah tindakan saya, sebab itulah batas kekuasaan saya. Jika kebijakan sekolah tidak bisa saya kendalikan, saya tidak akan membiarkan sekolah mengendalikan saya.

Apakah Negara Abai?

Hari-hari ini, apakah negara abai dan lalai dalam respon wabah Covid-19? Entahlah. Ada ahli-ahli untuk telaah itu. Sebagai warga, saya memantau setiap waktu. Saya tidak boleh pasif.

Setiap waktu, pemberitaan kasus ini saya ikuti, baik di nasional maupun global. Saya membaca berbagai analisa dan ulasan, yang terjangkau atau menjangkau saya (karena broadcast di sosmed).

Dengan memiliki informasi berseliweran, ada kemewahan yang saya rasakan untuk mengambil keputusan: sampai batas mana saya akan panik.

Panik, peduli, kritis, dan lebay itu bedanya tipis. Apalagi dalam situasi tidak menentu.(*/ir).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *