Tata Krama Menggunakan Escalator di Jepang

Di Indonesia, kita mungkin tidak terbiasa memikirkan hal-hal kecil, seperti menggunakan escalator atau tangga berjalan.  Tetapi di Jepang, ada konvensi (aturan tidak tertulis) yang menjadi tata krama dalam interaksi sehari-hari.  Fenomena ini lazim kita temui di mall-mall, stasiun, atau tempat-tempat umum lainnya.

Pada saat berada di escalator, orang-orang biasanya akan merapat ke sisi kiri. Seperti lazimnya di tempat manapun, kita tinggal berdiri manis dan membiarkan escalator membawa kita naik atau turun.  Sementara sisi kanan, di-reservasikan untuk orang yang buru-buru.  Jadi, jika kebetulan kita sedang terburu waktu (misalnya mengejar kereta atau subway), kita bisa menggunakan jalur kanan itu untuk mendahului orang-orang yang ada di sisi kiri.

Kata Sensei saya, ini bukan aturan tertulis.  Tetapi sesuatu yang telah dibiasakan sejak lama.  Senseipun tidak tahu sejak kapan kebiasaan itu diadopsi dan menjadi kesepakatan bersama.  Yang jelas, itulah praktek sehari-hari di Jepang.

Kebetulan, dua minggu lalu, saya dan Mas Novri Susan (teman kuliah di Doshisha) berkunjung ke Osaka.  Kami sempat diajak oleh teman kuliah yang tinggal di Osaka (namanya Ono San), untuk mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Osaka.  Salah satunya adalah gedung balai kota lama.

Di salah satu sisi gedung itu, teronggok mesin lift kuno.  Menurut Ono San, inilah mesin lift pertama yang digunakan di Jepang.  Di dinding, ada penjelasan tentang lift tersebut.  Saya tercengang juga.  Ternyata, orang Jepang telah menggunakan lift sejak tahun 1896.  Saya kira, penggunaan escalator dan lift tidak jauh berbeda dimulainya.

Tidaklah mengherankan jika kemudian orang Jepang telah memiliki konvensi untuk menggunakan escalator, sebab mereka telah cukup lama mengenal perangkat ini.

Bagaimana kita di Indonesia?  Sepanjang yang saya ketahui, kita sama sekali tidak membiasakan diri dengan hal-hal kecil seperti itu.  Dampaknya adalah: kalau ada yang buru-buru naik escalator, dia akan marah-marah karena jalannya terhalang.  Sementara orang yang tidak buru-buru, juga marah-marah karena merasa diganggu kenyamanannya.

Nah, kenapa kita tidak berpikir untuk memulai kebiasaan seperti di Jepang, yang dapat dipastikan akan menyenangkan semua pengguna escalator, baik yang buru-buru maupun yang ingin santai? (*)

5 Comments

  1. Info dan saran yang baik. Hal2 semacam itu pulalah yang membedakan negara maju. Sering kali jika kita memperhatikan hal semacam itu di luar negeri misalnya, maka kita akan selalu dicap sebagai uneducated people atau dengan gampang orang yg demikian itu pasti berasal dari negara berkembang. Karena itu, kita mesti sadar bahwa konstruksi sosial kita masih sangat berbeda. Dan bahan2 konstruksi sosial kita pun berbeda. Nilai, kebiasaan, tradisi, tata lalu, tata krama, dan perilaku dalam masyarakat dikonstruksi dgn cara yang berbeda. Karena itu, saya kira perlu ada rekonstruksi sosial yang konstruktif dan sistimatis jika kita belum begitu nyaman dengan konstruksi kehidupan sosial dalam masyarakat kita saat ini. Meskipun ini bukanlah pekerjaan yang enteng. Selamat menikmati dan mengamati kehidupan sosial di negeri sakura.

    • Terima kasih atas kunjungannya, Ka Dayat.
      Keinginan kita memang demikian, perlu dibangun kebiasaan (habit), agar bisa terbangun karakter, lalu berkembang menjadi budaya. Nampaknya, formula “habit -> karakter -> kultur” yang lumrah kita temui di negara-negara maju. Dan, kita perlu belajar akan hal ini…

  2. Begitu maju peradaban tata krama orang-orang di Jepang ya? Di Newport Rhode Island, yang kebetulan lebih banyak orang eropanya, juga mengajari saya tata krama berlalu lintas..

    seperti konvensi turun-temurun, semua pengemudi yang akan melewati junction, pasti berhenti sebentar sebelum melewati junction, dan bila ada beberapa pengemudi yang akan melewati, maka mereka dengan sadar diri mempersilahkan pengemudi yang telah tiba dahulu, begitu seterusnya.
    tidak ada salip-menyalip, atau memotong laju pengemudi lain.

    siapa yang duluan tiba, ya tangan kita (dari dalam mobil) kasih kode utk mempersilahkan mereka lewat.
    tanpa komando, satu per satu lewat berdasarkan urutan ketibaan. hehehe

    begitu juga utk pedestrian.. semua mobil langsung berhenti bila kita mau menyeberang jalan, tidak perlu kasih tangan (lambaikan tangan) utk menyeberang.

  3. Mungkin yg dimaksud adalah escalator. Elevator adalah sebutan untuk lift sedangkan travelator adalah a moving walkway yg biasanya bnyk terdapat di bandara2 international

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *