Kapal Pelni Hari Ini (2): KM. Kerinci, Sungguh Tidak Bermutu

Perjalanan kembali ke Makassar pada tanggal 3 September 2011 dengan KM. Kerinci tidak jauh beda dengan kisah di KM. Kelimutu.  Sebenarnya, pada hari itu ada KM. Lambelu yang juga berangkat menuju Makassar.  Kami memilih Kerinci karena kapal ini berangkat pertama dari Pelabuhan Baubau (istilahnya, forestay di Baubau).  Sementara KM. Lambelu berlayar dari Ambon dan transit di Baubau.  Jadi, bayangan kami, KM. Kerinci tidak akan sesemrawut dan sepadat pelayaran sebelumnya.

Bahkan di depan ruang informasi, dimana terdapat awak kapal berjaga setiap saat, penumpang boleh tidur melantai. (Foto: ishaq)

Tetapi bayangan itu hanya tinggal bayangan.  Para penumpang kelas ekonomi tetap saja memenuhi lorong-lorong kapal dan menempati ruang yang bisa ditempati.  Idealnya, ada kabin khusus untuk kelas ekonomi yang telah dibatasi untuk setiap penumpang.  Dan idealnya lagi, penjualan tiket seharusnya disesuaikan dengan jumlah kabin yang ada, baik kelas ekonomi maupun non ekonomi.

Faktanya, penumpang yang tersebar di berbagai tempat memang tidak memperoleh tempat lagi di kabin kelas ekonomi yang penuh sesak oleh orang dan barang.  Sama sekali tidak ada inisiatif dari awak kapal untuk membuat teratur situasi ini, dan nampaknya mereka sudah terbiasa.

Para penumpang tidur di luar kapal, berbaur dengan angin malam laut yang dingin (Foto: ishaq)

Kami menggunakan kelas II, dengan kabin yang didesain untuk empat orang.  Akan tetapi, di kapal ini, kamar mandi kelas II harus sharing dengan penumpang kelas II lainnya, yang juga dipakai oleh penumpang kelas ekonomi.  Bagaimana kondisi kamar mandi kelas II tersebut? Sangat memprihatinkan!!!  Hanya itu kata yang bisa saya sebutkan.

Kondisi kamar juga tidak kalah memprihatinkan.  Meskipun tidak ada kecoak disini (alhamdulillah yah, itu sesuatu banget!), tapi sungguh suram.  Dari enam lampu penerangan yang ada di kabin 5011 yang kami tempati, hanya ada 1 lampu yang menyala.  Setelah saya mengutak-atik sana-sini, satu lampu kecil juga menyala.

Dudukan lampu listrik yang terbuka dan terbiarkan. Sangat berbahaya. (Foto: ishaq)

Sementara di dinding-dinding kamar, ada tempat lampu yang beraliran listrik dengan kondisi terbuka.  Sangat rawan untuk tersentuh tidak sengaja saat kita tidur.

Nampaknya, pada hari-hari sekarang ini, pilihan untuk menggunakan kapal pelni, setikanya KM. Kelimutu dan KM. Kerinci, sebaiknya dilakukan hanya dan jika hanya tidak ada pilihan lain.(*)

One Comment

  1. hahahahahaha…. itu sesuatu yah bang…
    dan itu lah realita perjalanan moda transportasi plat merah yang ada di lautan bang… saya belum pernah sekalipun melihat apa yang namanya profesionalitas pelayaran dari segi kapasitas penumpang….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *