“Mami Tidak Sayang Saya Lagi”

Itu kalimat yang diucapkan anak kami, Zidan, sekitar seminggu setelah adik-adiknya lahir: si kembar Zaila dan Zaira.  Si kembar lahir di rumah sakit.  Sekitar 5 hari di rawat paska melahirkan, rumah sakit dipenuhi keluarga, kerabat dan sahabat yang berkunjung.  Zidan senang saat itu.  Di usianya yang telah lewat 6 tahun, menemui banyak orang sangat menyenangkan baginya.

Tetapi begitu kami kembali ke rumah, suasana asli mulai terasa.  Maminya dan saya, mau tidak mau, lebih banyak menghabiskan waktu “menyesuaikan diri” dengan kehadiran si kembar.  Kami berpengalaman membesarkan Zidan, terutama Maminya.  Tetapi mengelola kehadiran dua bayi perempuan sekaligus adalah pengalaman baru penuh takjub.

Sejak Zidan lahir, istri saya telah berkomitmen menjadi ibu bagi anak-anaknya.  Urusan lain adalah prioritas kesekian.  Ia ingin anak-anaknya memiliki ibu tunggal: dirinya.  Jadi, tidak akan ada kesempatan sedikitpun bagi “penjaga bayi” (siapapun itu) untuk hadir diantara dirinya dan anaknya. Ia berhenti bekerja untuk komitmen itu. Tekad yang sama, meskipun belakangan terasa beratnya, juga berlaku bagi dua bayi kami.

Bisa dibayangkan, bagaimana sibuk dan repotnya istri saya mengelola bayi-bayi kami.  Meskipun kembar identik, namun tingkah lakunya tidaklah identik.  Memang ada masa-masa dimana mereka melakukan beberapa hal bersamaan.  Namun tidak jarang juga mereka bertingkah “tidak kompak”.

Dampaknya, tentu saja, sebagian besar waktu istri saya habis untuk mengelola gadis-gadis kembar kami.  Tidak ada lagi waktu luang untuk membuat lukisan, sketsa atau meng-update blog-nya.  Zidan tiba-tiba merasa kehilangan mitra.  Selama ini, salah satu kesenangan Zidan adalah sibuk bareng Maminya: ia menggambar, Maminya membuat sketsa; ia membaca komik, Maminya meng-update blog; dan macam-macam lagi.

Selama lebih 6 tahun usianya, Zidan adalah sentra perhatian kami.  Meskipun kami bertekad untuk tidak menjadikannya anak yang manja, cara kami berbeda.  Perhatian terhadap Zidan tidak kami berikan dengan cara “memenuhi semua keinginannya”.

Perhatian kami diwujudkan dengan “memberi sebanyak mungkin waktu untuknya”.  Kami akan meluangkan waktu (dengan kesabaran tinggi) untuk menjelaskan kepadanya “mengapa kami tidak membelikannya mainan yang sangat ia inginkan”, atau menjelaskan “mengapa ia tidak boleh berlaku kasar”, atau menjelaskan “mengapa membaca adalah perlu baginya”, dan segalanya.  Kami akan menjelaskan apa saja kepadanya, sebanyak apapun waktu dibutuhkan.

Zidan tidak pernah dibiarkan pergi tidur sendirian.  Selalu saja istri saya atau saya menemaninya.  Membantunya menghafal beberapa surat Al-Qur’an, menemaninya bercerita hingga ia tertidur, menjawab pertanyaan-pertanyaan khas anak kecil-nya, dan segalanya.

Lalu, seminggu setelah kehadiran Zaila dan Zaira, rutinitas itu mulai berubah.  Zidan diminta tidur sendiri, karena maminya sedang mengurus-urus bayi yang satu, dan saya menangani bayi satunya lagi.  Kami memintanya mengerti dengan mengatakan: “Zidan sekarang Abang, sudah dewasa, karena sudah mempunyai adik….”

Ketika mandi pagi, Zidan diminta mandi sendiri.  Dia memang sudah pandai mandi sendiri danmemakai baju sendiri.  Tetapi, selama ini selalu ada yang menemaninya.  Belakangan, ia mulai malas mandi, karena tidak ada lagi yang menemani.

Begitu juga saat makan.  Zidan sudah lama pandai makan sendiri.  Tetapi, saat makan, selalu ada yang menemaninya cerita… (Oh ya, kami bukan penganut aliran “tidak boleh ngobrol saat makan”.  Bagi kami, meja makan adalah tempat yang tepat untuk membahas banyak hal.  Jadi, makan sambil berbicara justru sering kami lakukan).  Pendamping dan teman cerita saat makan itu juga mulai sibuk dengan urusan bayi.

Hingga, suatu malam, beberapa hari setelah kami kembali di rumah, Zidan belum juga tidur.  Meski berkali-kali disuruh tidur, ia hanya cemberut.  Lalu, tiba-tiba ia datang pada saya dan berkata lirih: “Mami sudah tidak peduli sama Dande.  Mungkin Mami sudah tidak sayang sama Dande ya Papi?”

Wajahnya kelihatan sangat sedih, khas anak kecil.  Tetapi, ini bukan anak kecil biasa, saya kira.  Sebab ada sedikit sembab di matanya, semacam tangis yang tertahan.  Wah, ia betul-betul sedih.

Saya hanya memeluknya dan berkata: “Coba Zidan bilang sendiri ke Mami”.  Tapi ia tidak mau.  Ia meminta saya yang menyampaikan kepada Maminya.  Saya mengajaknya bersama-sama menemui Maminya yang sedang sibuk memberi susu bayi kembar kami.

Istri saya sangat terharu.  Dan meneteskan air mata.  Kami menghabiskan beberapa waktu untuk menjelaskan kepadanya makna menyayangi adik-adiknya.  Bahwa, mengurus adik-adiknya yang masih bayi adalah wujud sayang kami kepada Zidan.  Sebab, Zidan saat ini sedang bangga memiliki sepasang adik kembar, gadis-gadis yang cantik.

Setelah itu, kami lalu mengembangkan manajemen baru. Sesibuk apapun kami mengatasi urusan-urusan si kembar, perlu selalu ada waktu untuk Zidan.  Maka, saat akan tidur, salah satu dari kami perlu mendampingi Zidan.  Saat mandi pagi, Maminya akan menyempatkan mendampinginya (sambil menggendong salah satu bayi kalau perlu).

Lama-lama Zidan mulai paham bahwa ia harus berbagi dengan adik-adiknya.  Suatu ketika, Zidan berkata: “Mami, itu Zaila mau minum susu. Jangan mi saya ditemani makan nah, saya bisa makan sendiri koq…”

Luangkan waktu untuk menjelaskan segala hal kepada anak selalu menjadi cara terbaik untuk mendidik.  Inilah substansi “pendidikan berasal dari rumah”.  Kami tidak ingin tugas dan tanggung jawab mendidik anak diambil oleh sekolah yang makin kapitalis, mekanistik, dan penuh standar.  Kapanpun, luangkanlah waktu untuk anak…(*)

5 Comments

  1. Ahhhh….jadi terharu baca blognya om papito. Thx for sharing ya.
    We will surely miss abang Dande teman main lego dan lari2an & “adik2 cantikku” Diba. Mudah2an pulang dari Jepang masih ingat ama kita ya. Nanti kalo udah di Jepang kapan2 coba skype-an ya

    • Terima kasih sudah berkunjung Bunda Diba… Insya Allah Dande akan sempatkan kirim surat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *