Tangan-Nya Bekerja Dengan Cara Tidak Biasa

bekerja

Ini pengalaman biasa. Tetapi, setelah berpikir-pikir, saya berani mengatakan ini bukan pengalaman biasa.  Setidaknya, saya menemukan refleksi dari kisah ini, kisah yang saya alami sendiri.

Hari itu, Kamis, 17 Maret 2011, saya tidak membawa kendaraan.  Seharian saya bersama Zidan, anak saya yang baru saja berulang tahun ke-6 dua hari sebelumnya, mengunjungi beberapa tempat menggunakan pete-pete (angkot).  Sekitar pukul 13.00 saya mengajar di kampus.  Lalu, sekitar pukul 15.00 saya menuju kantor Samsat di Jl. Mappanyukki, Makassar.

Dari Kantor Samsat, kami berdua menuju Kantor Astra menggunakan becak.  Saya pikir jaraknya tidak jauh.  Ketika pengayuh becak yang seorang anak muda kurus mengatakan tarifnya Rp. 10.000,- saya spontan menawar Rp. 5.000,-.  Ia menurunkan tarifnya menjadi Rp. 7.000,- dan saya tetap bertahan di Rp. 5.000,- itu.  Dia pasrah, setelah melihat ada beberapa becak saingan yang siap mengangkut saya dan Zidan.

Dalam perjalanan menuju Kantor Astra, baru saya sadari kalau jaraknya cukup jauh.  Bahkan, untuk mempersingkat jarak, pengayuh becak ini nekad memasuki jalan satu arah berlawanan alias menerobos tanda larangan.  Meskipun jengkel, saya sempat berpikir jangan-jangan ini gara-gara Rp. 2.000,- yang tidak rela saya bayarkan.  Zidan yang sudah dibiasakan dengan taat aturan sempat protes, kenapa becak ini memasuki tanda larangan.  Saya hanya diam.

Pada saat tiba di tujuan, saya merogoh saku dan menemukan dua lembar pecahan dua ribu, selembar pecahan seribu, dan selembar pecahan dua puluh ribu.  Saya membayar pengayuh becak ini dengan lembaran dua puluh ribu dan ia mengembalikan lima belas ribu rupiah.

Tiba-tiba saja, saya tergerak untuk menambahkan kepadanya dua ribu rupiah lagi.  Jadi, meskipun awalnya sepakat dengan tarif Rp. 5.000,- saya memberi Rp. 7.000,- kepada pengayuh becak ini.  Sungguh, ketika memberikan tambahan Rp. 2.000,- itu tidak sedikitpun perasaan jengkel atau terpaksa. Saya memberinya karena merasa jarak yang kami tempuh tadi tidak layak dengan tarif Rp. 5.000,-.

Jelas, pengayuh becak itu tampak sumringah. Ia tersenyum, mengucapkan terima kasih berkali-kali, setidaknya dua atau tiga kali, dan berlalu.

Setelah menyelesaikan urusan di Kantor Astra, saya dan Zidan singgah di Warung Kopi yang berjarak kira-kira 20 meter.  Saya memesan kopi susu, dan Zidan memesan Milo dingin.  Sambil menunggu pesanan, saya mencoba melihat berkeliling. Saya lalu menyadari tidak ada daftar harga makanan dan minuman di Warung Kopi ini.  Pada saat pesanan diantarkan, baru saya ingat kalau uang saya tinggal pecahan-pecahan yang ada di saku tadi.

Saya memang jarang sekali memegang uang cash.  Biasanya, uang cash itu saya taruh di laci kecil mobil untuk keperluan bayar tol atau parkir saja.

Jadi, untuk memastikan bahwa harga minuman cukup dengan uang di saku (yang tinggal Rp. 18.000,-), saya menuju kasir dan bermaksud membayar.  Kata kasir, “Semuanya Rp. 20.000,- pak…”

Tentu saya kembali duduk dan minum kopi sambil berpikir apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi kekurangan uang Rp. 2.000,- dalam waktu singkat. Jam sudah menunjuk pukul 16.45.  Di dinding ada tulisan: “Buka 06.30, Tutup 17.00”.  Lima belas menit lagi.

Saya bertanya kepada Zidan, apa di tas ranselnya dia membawa dompet?  Zidan mempunyai dompet Ben 10, tempat dia selalu menaruh uang yang diberi Mami-nya untuk “gaji” membantu pekerjaan di rumah (ini sikap yang kami biasakan agar Zidan “hanya menerima uang karena bekerja”).  Kata Zidan, dompet itu dia simpan di rumah.

Saya menelepon adik laki-laki saya, berharap dia ada di sekitar sini.  Tapi telepon tidak dijawab.  Setelah berulang kali menelepon, adik perempuan saya menjawabnya.  Katanya, adik laki-laki saya itu sedang demam di rumah adik perempuan saya.  Jaraknya jauh, sekitar sejam perjalanan jika tidak macet.

Saya panik dan mulai berkeringat.  Dalam bayangan saya, pastilah akan menjadi bahan tertawaan orang-orang seisi Warung Kopi, jika saya yang bertelepon menggunakan Galaxy Tab tidak memiliki uang Rp. 2.000,- di tangan.  Saya mengingat-ingat lokasi mesin ATM.  Ah, disekitar sini tidak ada.  Saya lalu mulai menimbang-nimbang, apakah KTP atau HP yang akan saya “titip” sambil saya menuju ke ATM bersama Zidan dan kembali lagi untuk membayar.  Tentu itu akan memalukan.

Di tengah kebingungan, tiba-tiba satu SMS masuk.  Seorang sahabat bertanya saya ada dimana.  Waktu saya menjawab sedang di Warung Kopi ini (tanpa menceritakan situasi yang sedang saya hadapi), dia lalu membalas lagi: “Okey, tunggu ya, saya menuju kesitu…”

Amazing!  Saya sama sekali tidak merencanakan bertemu kawan ini, dan juga tidak ada urusan yang membuat kami harus bertemu sekarang.  Sekitar 10 menit kemudian, kawan ini, AMY Kurniawan (saya memanggilnya Ka Wawan) datang.  Saya menceritakan “keajaiban” pertemuan kami sore ini.  Lebih ajaib lagi, karena tidak ada hal serius apapun yang disampaikan Ka Wawan kepada saya.  Dia benar-benar hanya datang, berbasa-basi, ikut-ikutan memesan minuman (itupun dia sempat berpikir akan memesan atau tidak), membayar semua minuman, dan kami berpisah.  Tidak sampai 15 menit.

Saya dan Zidan lalu menuju ATM dan kami menggunakan taksi ke tujuan berikutnya.  Dalam perjalanan, saya sungguh merenungkan peristiwa ini.

Seandainya tadi saya tidak memberi uang “tambahan” kepada pengayuh becak sebesar Rp. 2.000,- pastilah uang saya cukup untuk membayar minuman saya dan Zidan.

Peristiwa kecil hari ini sungguh bermakna dalam buat saya…

Entah benar atau tidak, tetapi saya percaya bahwa ada semacam dorongan yang menggerakkan Ka Wawan untuk menemui saya.  Mungkin saja, uang Rp. 2.000,- yang saya relakan kepada pengayuh becak tadi telah membuatnya bahagia.  Dan kebahagiannya itu menjadi do’a perlindungan untuk saya, menembus langit, dan menggerakkan tangan Tuhan.  Mungkin saja…

Saya ingat dalam Islam (entah itu ayat Allah atau Hadist nabi) ada ajaran yang mengatakan bahwa “do’a orang-orang yang lemah dan tertindas itu menembus langit”.  Juga ada ajaran “sering-seringlah meminta dido’akan oleh orang lain, sebab kita tidak tahu dari mulut siapa do’a untuk kita akan dikabulkan”.

Kejadian kecil di Warung Kopi Lagaligo sore itu terlalu sederhana untuk sebuah kebetulan.  Saya percaya, ada tangan yang bekerja dengan cara yang tidak akan pernah bisa kita pahami dengan logika biasa…(*)

 

5 Comments

  1. Hehe…saya beberapa kali mengalami hal sama.”berdebat” dengan tukang becak lalu kemudian “menyesal”…

    Di Kendari, beberapa hari lalu, seorang tukang ojek minta 15 ribu untuk jarak dari by pass ke pelabuhan perikanan namun di lain waktu seorang tukang ojek “pemula” hanya meminta 10ribu, bahkan ada yg minta 5ribu saja…he he he

    • Hehe, makasih sdh mampir Daeng…
      Kalau di Kendari, setahu saya hanya ojek yg begitu. Sementara utk jasa “lain” yg berbayar, kata orang sih, harganya fix. Hehehe. Tapi itu kata orang.

  2. Cerita yang menarik Ka Ishaq…pelajaran yang bisa diambil jangan menganggap enteng soal menghitung uang sebelum keluar rumah hehe….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *