Merokok Itu benar-benar berbahasa atau tidak

Baiklah, merokok bukan hal yang baik. Tetapi, saya memiliki pandangan yang pluralistik tentang segala tindakan manusia. Bagi saya, segala hal di dunia adalah tidak baik, jika dikerjakan berlebihan. Bahkan makan buah dan olah raga sekalipun (yang selalu dianjurkan dalam tips hidup sehat) bukanlah hal yang baik jika dilakukan berlebihan.

Meskipun tahu bahayanya, saya tetap saja merokok. Bagi saya, merokok yang berbahaya itu adalah yang berlebihan. Saya percaya pada pandangan yang mengatakan bahwa perilaku manusia itu merupakan respon terhadap dunia tempatnya hidup. Mekanisme inilah yang membentuk seleksi alam.

Lalu, mengapa hari ini kita dijejali kampanye bahaya rokok, padahal praktek merokok sudah ada sejak ribuan tahun lalu? Bukankah rokok itu juga telah menjadi tradisi pada banyak kebudayaan dan komunitas? Jika memang merokok begitu mengerikannya seperti kampanye anti rokok itu, lalu mengapa merokok dapat tumbuh dalam banyak kebudayaan?

Kecurigaan terhadap maksud jahat yang terselubung dibalik “kampanye anti rokok” seolah memperoleh energi setelah membaca buku “Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat” karya Wanda Hamilton (Insist Press, 2010).  Ini perlu diulas tersendiri pada posting lain.

Saya merokok sejak tamat SMA, sekitar tahun 1991. Awalnya adalah perokok sambil lalu. Pada 1993, saya mulai kecanduan, dimana merokok seolah menjadi kebutuhan. Tetapi, sebagai orang berpendidikan (yang salah satu cirinya adalah taat aturan, paham etika, dan menghormati lingkungan), saya sangat menjaga kebiasaan dan perilaku merokok.

Saya tidak pernah merokok di angkutan umum (pete-pete), dan kadang-kadang saya ikut menegur kalau ada orang ugal-ugalan yang merokok di angkutan umum. Di ruang tertutup saya juga menghindari merokok, kecuali hanya ada saya seorang sendiri. Ketika sedang merokok di cafe yang “smoking area” tetapi ada orang disekitar saya yang mengibaskan tangan untuk menghalau asap rokok dihadapannya, saya paling sering memilih untuk mematikan rokok saya (padahal saya bisa saja tidak peduli, karenan ia berada di area merokok, kan?).

Sejak tahun 1993, saya mengisap rokok putih bermerk ARDATH. Rokok putih itu istilah untuk rokok tanpa kretek, ya, bukan karena warnanya yang putih. Waktu itu harganya masih Rp. 350,- per bungkus yang berisi 20 batang. Tahun 1998, harganya naik jadi Rp. 750,- dan terus naik secara teratur. Terakhir, mulai tahun 2005, harganya menjadi Rp. 8.500,- per bungkus.

Pada pertengahan 2003, rokok bermerk ARDATH mulai langka di pasaran. Kalau sebelumnya saya bisa membelinya dengan mudah di pedagang asongan atau kios-kios kecil di pinggir jalan, masa ini mulai sulit. Menurut para penjual, rokok ini kurang laku. Ya, logika pasar sih, supply and demand. Jadi para pedagang eceran itu itu menjual merk-merk rokok yang paling laku.

Kelangkaan rokok bermerk ARDATH ini makin terasa pada 2007. Di sekitar kampus Unhas, hanya ada 1 kios depan Jl. Bung yang menjualnya. Di sekitar tempat tinggal saya, ada 2 toko, dan hanya itu saja. Kalau saya berada di kios yang baru saya kunjungi dan menanyakan rokok itu, banyak penjual yang bahkan tidak tahu kalau ada rokok dengan merk seperti itu.

Akibatnya, saya selalu membeli dalam jumlah banyak, terutama kalau hendak ke luar negeri. Kadang-kadang 10 bungkus sekaligus, jumlah yang masih ditoleransi oleh pabean di banyak negara. Lama-lama saya sadar, mengoleksi rokok dalam jumlah besar itu mempengaruhi juga kebiasaan merokok kita. Kita jadi tidak sadar merokok berlebihan.

Nah, tiga hari lalu (2 Nov. 2010), satu dari dua toko dekat rumah saya tidak lagi menjual rokok merk ARDATH. Lalu, kemarin (4 Nov. 2010) toko yang satunya juga tidak lagi menjualnya. Saya akan berangkat ke Toraja, jadi saya bermaksud membeli beberapa bungkus. Kata penjualnya, tidak ada lagi suply dari distributor. Stok mereka habis sama sekali.

Saya yakin, kelangkaan ARDATH akan segera terjadi. Mungkin pabriknya masih akan berproduksi, tapi dalam jumlah sangat terbatas, untuk memenuhi kebutuhan konsumen fanatiknya (saya termasuk lho…). Tapi, yang paling mungkin lagi adalah produksi rokok merk ARDATH akan segera berakhir atau tidak diproduksi lagi (istilahnya: discontinued).

Saya memegang bungkus terakhir rokok ARDATH milik saya, sisa pembelian minggu lalu. Saya jadi membayangkan, jika saja bungkus rokok ini adalah sepucuk pistol Magnum 45, maka saya adalah John Smith, tokoh yang diperankan Bruce Willis dalam film “the Last Man Standing” (Walter Hill, 1996).

Ya, saya merasa sebagai satu-satunya perokok ARDATH yang masih tersisa… Tiba-tiba, bungkus terakhir rokok bermerk ARDATH ditangan saya ini menjadi begitu berarti.***

Powered by Telkomsel BlackBerry®

8 Comments

  1. ane jg 2 minggu ini kesulitan cari ni rokok, dapet sisa2 di warung kecil.. ada 4 ane beli, ada 2 ane borong, skrg tinggal 8 the last… hahahahahaha..

  2. sore ini ardath saya tinggal 3 batang…smoga cukup ampe magrib ntar….
    after that????………………..katanya sih di bogor masih banyak…ntar nitip ah ke temen2 disono..

    • Wuaaah, semoga tabah Bro…. 😀

      Oh, ya, saya baru saja membeli satu slop (10 packs) di salah satu toko di Makassar… Kata penjualnya, “ino stock terakhir, pak….”… *pilu…

  3. Denger-denger ardath masih diproduksi tapi u/ kafe saja. Masak iya sich??? Anggap aja info ini benar, berarti kita masih bisa ikut hisap dong!

    • Begitu, ya? Artinya masih produksi dong ya, belum benar2 discontinued… Hm, berarti masih ada harapan…hehehe,

      Kalau ada info Kafe mana saja yang masih jual, share ya, bro…

  4. Habis tulis kmrn, paginya aku masih dapetin 3 bks di daerah Boyolali, mau? Jadi, tidak cukup hanya kafe mana yg ngejual tp ardathnya sekaligus. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *