Ngamen Dengan Jiwa di Coto Paraikatte

Bagi yang suka makan coto, tentu tidak asing dengan Coto Paraikatte di Jalan Pettarani, persis di samping Kantor KPU. Kuah cotonya kental dan rasanya berbekas di lidah kita. Saya singgah untuk makan siang (yang telat), dan tertarik empat pemuda yang menghibur dengan lagu-lagu top forty.

Meskipun telah beberapa kali makan disini, baru kali ini saya terusik untuk menulis tentang mereka. Pertama, mereka menyanyi dengan sangat “khidmat”. Ijinkan saya menggunakan istilah “menyanyi dengan jiwa”. Kedua, perawakan dan postur seperti mereka tidak biasa menjadi pengamen.

Penampilannya biasa saja, layaknya anak-anak muda. Tetapi badan mereka lebih tegap dan berotot. Dengan perawakan seperti itu, saya membayangkan mereka lebih layak duduk nongkrong di “dekker” atau di pos ronda ujung lorong. Mungkin beberapa ada yang sambil minum-minum alkohol.

Empat orang ini (difoto hanya tiga orang yang tampak) justru memilih untuk mengisi hari mereka dengan mencari nafkah. Mungkin saja, bagi banyak dari kita mengamen itu bukan pekerjaan. Itu aktivitas waktu senggang yang menghasilkan uang tidak pasti. Tetapi, mereka menjalaninya dengan sungguh-sungguh.

Suara mereka bagus, bahkan sangat bagus menurut ukuran saya yang tidak paham teknik menyanyi. Beberapa kali mereka mengalunkan vibrasi yang mengagumkan. Juga teknik main gitarnya beberapa tingkat di atas rata-rata. Dan lelaki botak di belakang itu memainkan perkusinya dengan apik. Para pengunjung terhibur.

Saya menjadi sangat hormat kepada mereka. Anak-anak muda yang tidak menyerah pada keadaan. Saya yakin, menjadi pengamen bukan pilihan. Tetapi, anak-anak muda ini memiliki cukup harga diri untuk tidak menyerah pada hidup.

Di Coto Paraikatte, tempat kuliner yang termasuk legendaris di Kota Makassar, mereka memilih eksis. Setidaknya ada tiga hal tergabung: mencari nafkah, berbuat baik, dan bahagia.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Catatan: Foto asli postingan ini hilang saat migrasi hosting. Foto yang digunakan disini adalah ilustrasi dari internet. Saya googling dan menemukannya ada pada beberapa portal, entah portal mana yang memiliki lisensi pertama kali. Saya mengubahnya menjadi black and white.

5 Comments

  1. sayang kita nda foto temanku yg duduk . . .
    namanya dedy,,,,suaranya seperti once dewa 19.
    mereka kalau malam ngamen d sari laut pantai depan benteng rotterdam…
    btw. ajak2 donk kalau Maco kk…

    • Oh, itu teman ta kah?
      Kalau gitu lain kali makan cotonya sama-sama nah, jadi selain bisa ngobrol sama mereka, juga bisa makan diskon (hopefully)… hehehe

  2. kalau mau diskon makan….kedip2 saja mata sama ibu haji yg duduk di kasir, jgn sama musisinya donk..hehehehe

  3. iya..pak…
    bagus banget suara para pengamen tuh. tapi akhir akhir ini (awal september) jadi jarang liat. hehehe kentara banget langganan coto paraikatte.
    btw, yang cowok dengan rambut sangat jarang (tidak ada) kayaknya spesialisasi lagu daerah seperti lagu manado, dll.
    n yang cowok satunya spesialisasi lagu melayu. hehehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *